• slide 1

    No Excuse! for Professional and Worker

    Workshop yang dirancang untuk melepas hambatan excuse, sehingga produktivas kerja dan penghasilan akan berlipat ganda

  • slide 2

    Workshop Menulis

    Workshop yang dirancang untuk menanamkan dasar-dasar kepenulisan hingga Anda siap menghasilkan warisan karya yang abadi

  • slide 3

    No Excuse! for Education

    Raih hasil terbaik di dunia akademisi dengan menaklukkan segala excuse yang menghambat kesuksesan di dunia pendidikan

  • slide 4

    Buku dan Penerbitan

    Abadikan ide Anda. Ternyata membuat buku lebih mudah dari mengarang satu buah cerpen. Terbukti di sini.

  • slide 5

    Workshop Menulis Anak dan Remaja

    Kemampuan menulis akan sangat bermanfaat untuk masa depan anak-anak. Yang penting ditanamkan adalah kecintaan pada menulis dan dasar penulisan yang benar

  • slide 7

    Workshop dan Seminar Jurnalistik

    Jurnalisme bukan sekedar berita, informasi atau bacaan, tapi cara kita menjadi bagian perubahan dunia

  • slide nav 1

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya
  • slide nav 2

    Workshop Menulis

    Metode terkini, update, mudah diaplikasikan dan karya layak akan diterbitkan
  • slide nav 3

    No Excuse! for Education

    Pendidikan dengan semangat No Excuse! akan menjamin masa depan bangsa
  • slide nav 4

    Workshop Buat Buku

    Membangun semangat untuk minimal menghasilkan satu karya buku sebelum mati
  • slide nav 5

    Workshop Menulis Anak

    Menumbuhkan rasa cinta dan kemampuan membaca dan menulis sejak dini
  • slide nav 6

    Workshop Jurnalistik

    Membangun media sebagai salah satu pilar perubahan untuk masa depan lebih baik
  • slide nav 7

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya

Selamat Datang di Komunitas Bisa!

Anda bisa melakukan segala hal jauh lebih hebat dari yang Anda kira!

Delete this element to display blogger navbar

The man behind the Gun (Penggalan film Sang Pencerah)

Posted by Isa Alamsyah at 12:28 AM
Kyai Haji Ahmad Dahlan ditanya oleh muridnya, apa itu agama.
Ia tidak langsung menjawab.
Ia hanya bermain biola. Para murid menyimak dan menghayatinya.
Mereka sangat menikmatinya, bahkan ada yang terkantuk-kantuk.
Bagaimana persaaan kalian? Tanya kiyai tentang alunan biolanya.
Menghibur, menyejukkan, menenangkan. Begitu jawab para muridnya.
Lalu Kiyai Haji Ahmad Dahlan menyerahkan biolanya ke salah satu murid, dan memintanya untuk memainkan biola yang sama.
Murid tersebut tidak tahu apa-apa tentang biola.
Sret... krek... bret...ngoott...begitu bunyi biolanya.
Bagaimana persaaan kalian, sekarang? Tanya kiyai lagi tentang alunan biola.
Baru sentuhan pertama, seluruh yang mendengar langsung sakit telinganya.
Sakit, menusuk telinga, meresahkan.
Itulah agama. Jelas KH Ahmad Dahlan tentang biola sebagai perumpamaan agama.
Agama sama seperti permainan biola ini.
Jika yang menjalankan agama tahu bagaimana menerapkan agama, maka agama akan menyejukkan, menentramkan dan membahagiakan.
Sebaliknya jika agama dijalankan oleh orang yang tidak tahu bagaimana menerapkan agama, maka ajaran agama jadi meresahkan, mengganggu dan merusak.
Itu adalah sepenggal scene dari film Sang Pencerah yang penuh hikmah dan mengundang decak tawa.
Kini pertanyaannya, bagaimana keagamaan kita berpengaruh pada masyarakat?
Apakah keimanan kita menentramkan atau justru meresahkan?
Apakah keimanan kita memberi sesuatu yang berbeda pada lingkungan atau tidak ada bedanya?

Sebenarnya apa yang disampaikan KH Ahmad Dahlan adalah konsep yang sekarang dikenal dengan "The man behind the gun"
Bukan masalah senjatanya, tapi siapa yang memakainya.
Dalam buku No Excuse (Excuse ke-8 "Saya tidak punya fasilitas") juga dibahas tentang hal ini.
Betapa banyak orang yang merasa pantas gagal karena tidak ditunjang fasilitas, padahal banyak orang lain dengan fasilitas lebih minim jauh lebih sukses.
Jadi bukan masalah fasilitasnya, tapi bagaimana kita memandang fasilitas tersebut dan fokus pada yang ada.Itu juga berlaku pada diri kita.
Diri kita adalah biola.
Apakah Anda menjadikan diri atau pribadi kita dengan kebaikan atau kehancuran.
Allah menjadikan diri kita biola, tapi kita yang memutuskan ingin memainkannya dengan baik atau merusaknya.
Itu pilihan Anda, tapi jelas ada pertanggungjwabannya kelak.

oleh Isa Alamsyah

7 comments :

  1. Nyoman Sihnarta said... :

    betul sekali, Agama seperti alunan sebuah Biola, musik. Tergantung siapadan bagaimana yang memainkannya, bisa menjadi menyejukkan, menyegarkan atau malah sebaikanya.
    TAPI tergantung juga siapa yang mendengartakan, Mungkin saja orang yang mendengarkan tidak menyukai jenis musik yang dimainkan maka gak suka juga dgn musik tersebut.

  1. Adithia Mu said... :

    Ya, ditengah keresahan dunia tentang pandangan buruk terhadap muslim

  1. Anda Aswan Aswaiwan said... :

    thanxz dah mengingatkan,,, agama harusnya membawa perdamain...

  1. Meliana Aryuni said... :

    Sayangnya saya belum nonton Sang Pencerah, moga bisa segera tayang di TV ya,Pak. Nasihat yang bijak dari seorang ulama yg bijak lebih kusukai daripada diberi harta yang berlimpah namun tidak bisa dimanfaatkan dgn sebaik2nya.

  1. Ibunya Arya Adalah Tika said... :

    mantaaaabbbsss...ijin share ya pak....

  1. Eka Irma Wati said... :

    Siiipp Pak... jadi penasaran sama filmnya... :)

  1. Doni Al Siraj said... :

    Alhamdulillah... dapat ilmu dan inspirasi baru lagi nich...

Post a Comment

 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More