• slide 1

    No Excuse! for Professional and Worker

    Workshop yang dirancang untuk melepas hambatan excuse, sehingga produktivas kerja dan penghasilan akan berlipat ganda

  • slide 2

    Workshop Menulis

    Workshop yang dirancang untuk menanamkan dasar-dasar kepenulisan hingga Anda siap menghasilkan warisan karya yang abadi

  • slide 3

    No Excuse! for Education

    Raih hasil terbaik di dunia akademisi dengan menaklukkan segala excuse yang menghambat kesuksesan di dunia pendidikan

  • slide 4

    Buku dan Penerbitan

    Abadikan ide Anda. Ternyata membuat buku lebih mudah dari mengarang satu buah cerpen. Terbukti di sini.

  • slide 5

    Workshop Menulis Anak dan Remaja

    Kemampuan menulis akan sangat bermanfaat untuk masa depan anak-anak. Yang penting ditanamkan adalah kecintaan pada menulis dan dasar penulisan yang benar

  • slide 7

    Workshop dan Seminar Jurnalistik

    Jurnalisme bukan sekedar berita, informasi atau bacaan, tapi cara kita menjadi bagian perubahan dunia

  • slide nav 1

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya
  • slide nav 2

    Workshop Menulis

    Metode terkini, update, mudah diaplikasikan dan karya layak akan diterbitkan
  • slide nav 3

    No Excuse! for Education

    Pendidikan dengan semangat No Excuse! akan menjamin masa depan bangsa
  • slide nav 4

    Workshop Buat Buku

    Membangun semangat untuk minimal menghasilkan satu karya buku sebelum mati
  • slide nav 5

    Workshop Menulis Anak

    Menumbuhkan rasa cinta dan kemampuan membaca dan menulis sejak dini
  • slide nav 6

    Workshop Jurnalistik

    Membangun media sebagai salah satu pilar perubahan untuk masa depan lebih baik
  • slide nav 7

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya

Selamat Datang di Komunitas Bisa!

Anda bisa melakukan segala hal jauh lebih hebat dari yang Anda kira!

Delete this element to display blogger navbar

Bencana UAN, Refleksi Try Out Januari 2011

Posted by Isa Alamsyah at 11:23 PM
Tray Out UAN SMP yang diadakan diknas baru saja lewat jumat kemarin.
Kalau tidak ada perubahan berarti, mungkin UAN akan menjadi bencana besar bagi anak-anak Indonesia.

Kenapa?

Try Out adalah bayangan UAN ke depan, karena itu penyelenggraaannya diusahakan semirip situasi aslinya.
Bahkan dengan "TEGAS" super "PEDE" pengawas mengatakan
"Tidak ada pertanyaan, atas soal, kerjakan saja."
Mantap...
Tapi sayangnya ini PEDE tidak pada tempatnya

Kesalahan fatal pertama:
BANYAK SOAL SALAH
Bayangkan saja hampir di setiap mata pelajaran yang diujikan ada soal yang kasat mata salah (Salah ketik, salah cetak dsb).

Pada pelajaran bahasa Inggris ada soal seperti ini:
Arti dari kata yang digarisbawahi pada kalimat tersebut adalah:.... (Padahal di soal tersebut tidak ada kata yang digarisbawahi).

Pada pelajaran matematika ada soal:
Luas bangunan yang diarsir adalah.....(Padahal digambar tersebut tidak ada yang diarsir, jadi bagaimana tahu jawabannya).

Luas bidang tanah 1/3 diberi ke A, 5/6 diberi ke B, sisa 30 cm untuk C.
Berapa jatah B?
Padahal jumlah tanah yang sudah dibagikan sudah lebih dari 100% atau 7/6 (logikanya tidak boleh lebih dari 6/6)

Ada pertanyaan seperti ini:
Berdasarkan denah tersebut maka posisi ada di (Tapi di soal tersebut denah tidak tercetak).

Ada juga soal yang jawabannya 432000 tapi tertulis 423000 (Salah ketik)

Bahkan ada guru matematika yang bilang di soal matematika paket 7 ada 9 soal yang tidak ada jawabannya. Bayangkan 9 salah soal dari 40 soal. Kalau benar semua tidak mungkin dapat nilai 8 dan kalau dianulir, tidak fair.

Pada pelajaran Bahasa Indonesia ada salah soal seperti ini:
Tuti menulis surat ayahnya untuk belajar di rumah Sarah...
Tapi dijawaban yang paling mendekati benar ditulis dengan nama Irma (salah ketik?)

Salah soal seperti ini sangat berbahaya:
1. Anak kehabisan waktu untuk mengulang dan mengulang lagi untuk sesuatu yang tidak bermanfaat (karena tidak ada jawabannya).
2. Anak jadi kehabisan energi karena berkutat di soal yang membingungkan tapi tidak ada jawabannya.
3. Lebih parah lagi anak jadi rendah diri pada saat ujian, muncul stres tidak penting. Mereka merasa siap tapi ternyata mereka tidak bisa menjawab.
Padahal tidak ada jawabannya.
4. Lebih parah lagi, anak yang percaya diri, karena tahu soalnya banyak yang salah, ketika soalnya benar dan dia salah menjawab, dia menganggap soalnya yang salah.


Kesalahan fatal keduaa
MASIH ADA SOAL YANG MULTI INTERPRETASI
Salah satu tantangan untuk membuat soal multiple choice adalah membuat soal yang sulit tapi valid dan tidak multitafsir. Tipis perbedaaanya tapi hanya satu valid. Kalau ada dua yang bisa valid maka sangat menyesatkan.

Misalnya di try out bahasa Inggris ada soal
Anak menulis kartu ulang tahun pada ibunya, lalu pertanyaannya
Apakah anak ini:
a. Mencintai ibunya
b. Menghargai ibunya
c. Rindu ibunya..
dll.
Padahal semua jawaban di atas tidak bisa disalahkan, karena ada anak mengirim kartu karena cinta, kangen, dll.

Misalnya di UAN 2009 bidang science
Ada soal:
Untuk melindung burung kakak tua maka
a. menanam pohon potensial untuk sarang kakak tua
b. menakar dan dipelihara untuk koleksi
c. Menangkap dan dipeliharadi rumah
d. Memagari dan melindungi habitat kakak tua.
Jawab a datau d bisa diterima (sekalipun A mungkin jawabannya, tapi kalau pada jawabab D kata memagari konteksnya pagar yang tidak bisa dilewati manusia tapi atasnya tetap terbuka juga benar. Kalau kata yang dipili adalah mengurung (dalam sangkar raksasa bisa jadi D salah).

Dan masih banyak contoh lainnya.

Kesalahan fatal ketiga
FAIRNESS (kedilan soal)

Untuk menghindari kebocoran soal, soal UAN dibuat beberapa paket, katakanlah paket 1,2,3,4,5.
Idealnya setiap kode isinya soalnya sama tapi urutannya beda.
Tapi kenyataannya beberapa soal ada yang berbeda. Jadi tidak fair untuk anak-anak.
Misalnya :
9:3 dan 9:2 sama sama soal pembagian tapi tingkat kesulitannya beda.
Jadi tetap saja tidak adil jika ada soal yang berbeda.
Kalau urutannya diacak tidak masalah, tapi kalau beda tentu masalah.

Semoga saja orang tua yang peduli, pakar yang mengerti, pejabat yang berwenang, lebih berperan mengkoreksi ini.
Kalau insiden ini terjadi di UAN. maka bencana bagi anak-anak Indonesia.
Rasul saw. menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran” (HR Bukhari).


51 comments :

  1. Anonymous said... :

    betul kang ini harus jadi perhatian yang sangat serius dari pejabat pendidikan...
    saya termasuk UAN pertama dulu walaupun masih ada toleransi ngulang tp tetep saja mbuat stress siswa2..
    dulu matematika saja dari soal 40, tmn yg paling pintar pun cuma bisa jawab 25,,, ternyata setelah diperiksa oleh guru mtk.. dari 40 soal banyak yg gak da jawaban,,, dan katanya tingkat kesulitan soalnya diatas siswa rata2...

  1. Anonymous said... :

    Alhamdulillah masih ada yg percaya pada penyeleggaraan UAN. Kalau saya sudah tidak percaya lagi. Karena dalam pelaksanaannya UAN = pembodohan dan pembunuhan generasi muda, mengapa saya bilang begitu???? karena di beberapa tempat (memang tidak seluruhnya) pelaksanaan UAN hanya formalitas, karena (1) pada saat siswa dibagikan soal itu sudah lengkap dengan jawabannya; (2) Setelah siswa mengerjakan soal dan pulang, pengawas mengoreksi kembali dan membenarkan jawaban yg salah; (3) Nilai UAN yg disetorkan ke pusat sudah dikatrol / bukan murni.

  1. Anonymous said... :

    Lanjutan komen di atas..... UAN hanya usaha pemerintah untuk memenuhi syarat dari BANK DUNIA yg menginginkan standar pendidikan di Indonesia itu sesuai dg standar BANK DUNIA. Ketika standar itu terpenuhi maka bantuan BANK DUNIA terus diberikan, makanya perintah dari pusat untuk menaikkan standar kelulusan disikapi dan ditindaklanjuti oleh beberapa kepala dinas dengan cara akal-akalan, pokoknya yang penting nilai standar kelulusannya masuk. (hal tersebut saya lihat sendiri dan setelah mendapat sumber dari beberapa guru dan kepala sekolah). Bahkan ada beberapa sekolah yang menginstruksikan kepada muridnya untuk tidak memberitahu bahwa dia (siswa) mendapat bocoran jawaban kepada orang lain termasuk ORANGTUANYA, sedih...kejujuran sudah tidak lagi diajarkan di sekolah.....

  1. Isa Alamsyah said... :

    Anonymous: Sayang gak ditulis nama jadi ini tanggapan buat anonim paling atas: Itu adalah fakta yang parah berarti selama ini sudah sering terjadi

  1. Isa Alamsyah said... :

    Anonymous di bawahnya: Visi pendidikan harus jelas, bahwa pendidikan adalah untuk anak bukan untuk kepentingan politik, atau pencitraan.

  1. Nurul Aulia said... :

    apa benar seperti itu pak, saya juga jadi ingat waktu saya UAN SMA, waktu itu kami mengerjakan soal ujian mata pelajaran biologi, baru soal pertama saja kami sudah bingung karena jawabanya mirip sekali, sama seperti soal bapak yang burung kakak tua itu yang jawabannya kalau secara logika benar semua.

  1. Isa Alamsyah said... :

    itu multi intepretasi> Bentuk kesombomgam akademis> Si pembuat soal merasa pilihan dia paling tepat padahal belum tentu. Kalau pembuiat soal cerdas maka tidak ada interpretasi ganda.

  1. Nurul Aulia said... :

    ia juga pak, guru biologi kami pun pas kami tanya soal itu setelah kami selesai mengerjakan soal ujian. itu pun bingung memilih yang mana jawaban yang benar.

  1. Isa Alamsyah said... :

    Semoga saja ada perbaikan

  1. melisa emelda said... :

    selain kualitas soal dan tujuannya yang dipertanyakan, pemerataan tingkat/standar kelulusan jg tidak adil, masa di daerah terpencil yang notabene sumberdaya pengajarnya memiliki kualitas yang masih jauh (secara pengalaman, latar belakang pendidikan dan jumlah) dibandingkan kebanyakan kota di jawa dan sarana serta prasarana yang sangat tertinggal,bisa disamakan??? itu sangat tidak adil.
    tolong para bapak/ibu, pejabat berwenang, introspeksi kebijakan ini.

  1. Isa Alamsyah said... :

    Penyeragaman bis amenjadi bumerang, bukan?

  1. Tria Jezebel said... :

    Hehehe UAN ba9i pr plajar emg bencana
    tp, low g ad UAN pljr indon3sia bkl ktin9gln pesawat ntr

  1. Isa Alamsyah said... :

    Tergantung kualitas UAN nya dong, dulu sebelum UAN sebagai penentu kita baik-baik aja kok

  1. Tialina Siregar said... :

    Tak prlu t'lalu sbuk mnyalahi sistem. Bnyk latihan n belajar drmh itu yg utama.

  1. Isa Alamsyah said... :

    Menurut saya yang lebih utama sistem diubah, jadi semua ikut baik. Kalau sistem buruk cuma sedikit yang survive. Bahaya kalau ide seperti ini dipegang pemegang kebijakan bisa tidak ada kemajuan. Salam.

  1. Didik Bachtiar said... :

    uan/un mrpkn proyek krn anggaranya bsr srt kkn d otonomikn sj krn stiap daerah kualitas & fasilitas pndidiknya brbda-bda

  1. Isa Alamsyah said... :

    Didik Bachtiar: Asalkan jangan ada salah soal saja terutama, lalu kualitas soalnya juga

  1. Ria Jumiati Yahya said... :

    Siapa yg jadi calo UAN? Percuma lulus dgn nilai yg bgs kalo hsil otak atik penilai dan uang

  1. Isa Alamsyah said... :

    Ria Jumiati Yahya: Betul

  1. Yuliani B Sarwani said... :

    tau nih...anak2 sdh ngga respect sm gurunya karena mereka pikir walaupun ngga belajar bakalan lulus juga krn melihat kakak2 kelasnya yg jarang masukpun bisa lulus dgn nilai bagus...aneh tapi nyata

  1. Isa Alamsyah said... :

    Karena UAN jadi ukuran nasional, pemerintah daerah tidak mau dipermalukan, sekolah tidak mau dipermalukan, akhirnya ada kerja sama untuk tidak jujur. Sudah menyimpang dari tujuan.

  1. Vitri Sulandari said... :

    Setuju... Siswa daerah pinggir /pedalaman tentu jauh brbeda dg daerah kota besar, mengapa standarnya disamakan scr nasional?

  1. Isa Alamsyah said... :

    Itu dia kuncinya. Kalau mau disamakan maka standarnya harus di samakan. Kalau belum bisa disamakan jangan di nasionalkan.

  1. Dwi Ratnaningsih said... :

    Sebelum ada UAN pun sudah banyak "kecurangan" dan ini fakta, saya "pernah terpaksa" melakukannya karena desakan kepala sekolah agar nama baik sekolah terjaga meski dalam hati saya menolak tapi apa daya, saya tak kuasa dan hal itu saya sesali sekali :((

  1. Isa Alamsyah said... :

    Dwi Ratnaningsih: Sangat memprihatinkan sekali ya

  1. Teater Keliling said... :

    waktu mengetik soal soal itu kan otaknya melancong ke pikiran berapa ya aku dapat penghasilan tambahan dari UAN ini? Nah jadi ya begitulah....nggak fokus ke masalah UAN nya sih......dan itulah sebagian besar cara kerja PNS, maaf deh...begitu sih kenyataannya. malu maluin aja. tapi sudha puluhan tahun begitu.

  1. Citra Widuri said... :

    Bang Isa,,, like this Bang... ijin repost di note saya ya Bang.... maturnuwun... ^^)

  1. Isa Alamsyah said... :

    Teater Keliling: Well, semoga semakin baik

  1. Isa Alamsyah said... :

    Citra Widuri: Silakan direpost

  1. Sansan Hasanudin Al Qori said... :

    pejabatnya banyak kepentingan sih.... sampe tega ngorbanin generasi penerusnya... (mungkin)
    harus cut generasi kayanya... :(

  1. Tina Susanti Jokamerz said... :

    UAN semakin lama,smkn g b'mutu

  1. Isa Alamsyah said... :

    Tina Susanti Jokamerz: UAN sempurna saja sudah masalah, apalagi kalau ada salahnya

  1. Ria Restiani Ria said... :

    mohon izin share.. :)

  1. Isa Alamsyah said... :

    Ria Restiani Ria: Silakan dishare

  1. Mutiara Hadisty said... :

    saya memang ga setuju mesti ada UAN Pak! ga efektif sama sekali! dan ga relevan cara ini untuk menentukan kelulusan! menurut saya anak didik diluluskan aj semua, toh saya lihat materi didikan ga banyak dipakai pada kehidpan sosial selanjutnya! bukan ingin mengecilkan arti pendidikan, tapi sistem kita sangat buruk, kuno dan ga masuk akal! selama bertahun-tahun belajar di sekolah, kemudian ditentukan dengan ujian beberapa hari dan kemudian menentukan siapa yang lulus dan siapa yang tidak...hahhh!!!!! hasilnya apa? anak justru stress, depresi tingkat tinggi, apa-apaan itu? Penting untuk memperhatikan minat,bakat dan kemampuan anak di bidang apa, jadi bisa kita maksimalkan mengasah dan mengarahkannya, saya kira cara seperti ini yang perlu dikembangkan pada sistem pendidikan kita. Lagian dari dulu mentri pendidikan ganti tapi sistem ga berubah, buat apa menggaji mentri begituan??? Ada pengelola swasta yang menerapkan sistem klasifikasi ini tapi baiayanya jadi sngat mahal...huft..gimana bangsa ini bisa maju? peradabannya bergerak mudur bukan maju! wah.. maaf Pak, ntah ada manfaat tak saya utarakan ini, setidaknya termakasih atas kesempatan dan ruang yng disediakan!

  1. Isa Alamsyah said... :

    Mutiara Hadisty: Karena itu saya sedang membuat tim untuk memilah mana pelajaran yang penting mana yang tidak

  1. Ami Suratmi Usman said... :

    sangat disayangkan sekali pak. saya sedih dengan kenyataan seperti ini. Dalam dunia pendidikan, sebelum soal diujicobakan ada proses yg harus dilakukan oleh penulis soal yaitu Jugdgment soal. Didalammnya ada validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran. Jika yang membuat soal tersebut adalah org pendidikan Saya YAKIN akan dilakukan Langkah2 ini.

  1. Ami Suratmi Usman said... :

    izin share ya pak.

  1. Isa Alamsyah said... :

    Ami Suratmi Usman: untuk pembuat soal yang bermutu iya. Waktu saya kerja di Japan Foundation, kita petugas lapangan saja memastikan tidak ada soal yang salah cetak. Silakan dishare

  1. Adiar Ersti Mardisiwi said... :

    memang hal2 yg disebutkan di atas benar. tapi sekarang kan 60% unas, 40% prestasi belajar di sekolah. saya kira cara terbaru ini sudah merupakan cara yg cukup adil..
    sesuai apa yg dikatakan pak m.nuh selaku mendiknas.
    bila unas ditiadakan, bukankah bakal ada pro kontra lagi?
    meniadakan unas bukanlah sebuah solusi...

  1. Isa Alamsyah said... :

    Adiar Ersti Mardisiwi: Betul komposisi 60-40 cukup fair

  1. Yosafat said... :

    Klo gitu UAN disarankan jangan pilihan ganda tapi isian saja biar susah nyontek dan ga ada kesalahan (isian kan tidak pernah salah,kalaupun soal salah kan bisa aja nilainya dari menunjukkan kesalahan dari soal)
    Pinginnya sih bilang gitu tapi penduduk Indonesia yang sangat banyak itu sangat tidak mendukung..

    Saya melihat UAN hanya sebagai sistem standarisasi nasional,jadi klo mau masuk SMA atau univ setidaknya harus bisa ini dan itu.. Sehingga sistem pendidikan kita punya standar minimal.. Jadi ga usah di blow-up kasus-kasus siswa ga lulus UAN (sekarang sih ga isa gitu),lha wong standar siswa tersebut di bawah rata-rata kok.. Masa siswa “kurang” mau dianggap “lebih”? Nanti siswa “lebih” jadi “kurang” dihargai dong..

    Tapi terlepas dari tujuan mulia UAN,fasilitas pendidikan di Indonesia sangat timpang.. Tapi saya melihat ini (sekali lagi) sebagai banyaknya penduduk Indonesia..

  1. Isa Alamsyah said... :

    Yosafat: Niat baik harus diimbangi dengan cara baik. Kekuasaan haus diimbangin dengan kecakapan.

  1. iqew said... :

    Saya setuju. Namun yg paling sy tegaskan dlm fenomena UAN adalah contek2an, bocoran, dll yg sy pikir hal ini dulu lah yg harus diprioritaskan utk ditanggulangi.. Salam perubahan!

  1. Isa Alamsyah said... :

    Tugas pemerintah mempunyai sistem yang bebas bocoran.

  1. Setiap kebijakan pasti ada dampak negatif dan positifnya, mungkin pemerintah punya maksud baik yaitu untuk meningkatkan SDM kita kelak agar menjadi baik dan bisa sebanding dengan negara2 lain, namun kurang disadari bahwa dalam pelaksanaannya banyak sekali kekurangannya. Dari yang Bapak sampaikan sungguh sangat menyedihkan kalau soal2 ujian sampai salah cetak, salah ketik ataupun kerancuan memberi jawaban multiple choise dan sepertinya bertahun-tahun masih saja terjadi. Yang lebih menyedihkan lagi untuk menyenangkan program pemerintah supaya dianggap berhasil banyak sekolah2 bahkan pemerintah daerah ikut andil menghalalkan segala cara, saya rasa kejadian ini berulang2 terjadi disetiap daerah, kebocoran soal, kerjasama antar siswa dan yang lebih fatal lagi guru yang mengerjakan terus hasilnya dibagi ke semua siswa. Untuk apa mereka berbuat seperti itu? Agar dianggap “Berhasil” menyukseskan program pemerintah. Anak2 juga mengalami tekanan dalam menanamkan arti UAN yang dianggap momok untuk mencapai tingkat kelulusan. Mudah2n pemerintah mau mendengar dan melihat proses ujian pada anak didik kita bukan sekedar kunjungan yang diliput stasiun televisi. Salam.

  1. Isa Alamsyah said... :

    Lailatul Qodriyah: Hal baik saja ada dampak buruknya, apalagi hal buruk. Tapi soal salah cetak di UAN menurut saya tidak bisa diterima. No Excuse!
    Tetap semanagat untuk perbaikan! Salam

  1. August Hnedri said... :

    Benar adanya: Salah ketik, salah EYD dalam soal itu soal sangat banyak.

  1. Isa Alamsyah said... :

    Terus terang saya hanya dapat testimoni dari beberapa anak peserta try out, kalau ada hard copynya boleh minta dong, biar lebih di blow up

  1. Anonymous said... :

    insya allah tahun ini bencana uan itu tidak terjadi.mendiknas skrg jauh lebih baik dibandingkan yg kmrn. yg perlu dipersiapkan pelajar adlh terus belajar.
    permasalahannya adalah selalu menyalahkan sistem, dan orang di luar kita, smtara kita tidak berbuat apa2.
    man jadda wa jadda...barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkannya.
    belajar untuk uan tentunya juga bukan dalam wkt mepet, ada proses. saya tahu betul bgm pelajar kita saat ini.cukup memprihatinkan.
    negara kita memang perlu standar, karena ini juga dimaksudkan supaya kita dalam pendidikan punya target.sayangny semangat pemerintah, maupun pihak sekolah tidak sama dengan ortu dan siswanya. lebih banyak menyerahkan tugas pendidikan hanya ke sekolah dan negara.kita semua punya tanggung jawab masing-masing minimal diri kita sendiri.
    no excuse.
    berbuat yang terbaik

  1. Isa Alamsyah said... :

    Anonymous : Semoga saja. Tapi yang salah try out tahun ini loh> Makanya saya memaksakan menulis ini supaya bergaung dan tidak ada kesalahan soal lagi di UAN tahun ini (Khabarnya tiap tahun sampai tahun 2010 selalu ada salah soal).

Post a Comment

 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More