Belajar Kehidupan dari Final AFF 2010

Belajar Kehidupan dari Final AFF 2010

Isa Alamsyah (http://www.kompasiana.com/isaalamsyah)

Sekalipun sejatinya penyelenggaraan Final AFF adalah final sepak bola,

tapi ternyata banyak pelajaran kehidupan yang bisa diambil dari event besar level Asia Tenggara ini.

Saya merefleksikannya dari dua tempat nonton bareng yang saya ikuti.

Kebetulan babak pertama nonton di teater Daun Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Indonesia, karena habis nonton Acapella Gradasi tampil di sana, dan babak kedua pindah nonbar ke mal daerah Depok karena ada janji nonbar juga dengan yang lain.

Pelajaran Pertama: Kepentingan pribadi atau bangsa

Ada peristiwa menarik yang saya lihat ketika gawang Indonesia kebobolan.

Bayangkan saja, selama puluhan menit belasan kali Indonesia mencoba membobol gawang dan tidak masuk-masuk,

ternyata Malaysia melakukan serangan balasan dan menjebol gawang Indonesia.

Tentu saja sontak penonton Indonesia lemas, kaget dan berteriak.

Tapi di antara penonton saya melihat ada yang bergembira dan mengatakan "YES"

Dia sangat senang melihat gawang Indonesia kebobolan, sampai saya bertanya dalam hati, ini orang Malaysia apa?Lalu saya mendekat hendak tahu, kenapa orang ini bergembira ketika Indonesia kebobolan.

Dari mulutnya tanpa sengaja saya dengar kalimat:

"Wah gue menang taruhan Rp 200.000, dari awal gue tahu Malaysia bakal menang," katanya tersenyum bahagia.

Gila!, di saat begitu banyak anak bangsa yang mendukung rekan sebangsa berjuang di lapangan hijau,

ternyata ada orang macam begini. Hanya demi uang Rp 200.000 dia rela mengkhianati spirit perjuangan, kebersamaan dan penghargaan atas kerja keras timnas kita.

Tapi saat itu juga saya jadi ingat, bahwa ini adalah masalah bangsa kita sejak lama.

Kenapa korupsi meraja lela? Ya alasan sama, kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

Demi uang Rp 1 miliyar masuk ke kantong pribadi, banyak oknum yang rela menjual aset triliunan bangsa ke pihak lain.

Toh yang rugi bukan dia.

Bahkan dalam politik adu domba dan memecah bela sejak era penjajahan, Belanda berhasil bercokol lama, karena di masa lalu banyak pemimpin yang lebih mementingkan kepentingan pribadi atau kekuasaan yang dijamin Belanda, daripada kepentingan rakyat.

Tugas kita, mempersedikit oknum seperti ini, dan jangan percaya oknum seperti ini untuk memegang amanah.

Jadi pilihlah wakilmu dengan bijaksana.

Pelajaran Kedua: Mudahnya Menilai dan Menghakimi

Ketika pinalti gagal, ketika ada bola yang terlepas, ketika ada operan yang meleset, tidak jarang kita mendengar umpatan:"Bego!"..."Tolol..." Gimana sih, "oper ke sana dong..."

Padahal orang yang berteriak seperti itu bisa main bola pun belum tentu.

Tapi dengan mudah menghakimi pemain timnas yang sudah dengan susah payah dan full energi berjuang.

Itu suara yang saya dengar ketika menonton di mal (itupun hanya segelintir orang saja saja).

Dalam kehidupan bangsa kita saat ini juga seperti itu.Kadang kita sumpah serapah ke politisi atau pemimpin tapi kita juga tidak mau memberikan kontribusi.

Kita memilih calon anggota parleman tanpa mempertimbangkan dengan matang siapa yang kita pilih.

Kadang dengan mudah kita bilang semua poilitsi busuk akhirnya kita tidak bisa melihat ada segelintir orang baik yang harusnya dipilih. Akibatnya pilih sembarangan atau tidak memilih sama sekali.

Ada orang tua bilang guru ini tidak becus mengajar, sekolah ini tidak becus mendidik padahal di rumah ia tidak mengajar anak-anaknya dengan baik.

Memang lebih mudah menilai daripada melakukannya.

Pelajaran Ketiga: Memahami jati diri

Dari dua tempat berbeda saya menemukan dua karakter supporter yang berbeda.

Di satu tempat (kebetulan saat itu nonton di Kafe Daun Fakultas Ilmu Budaya UI), saya melihat suporter yang membela Indonesia mati-matian tapi tidak keluar sumpah serapah ketika timnas melakukan kesalahan, di tempat lain (di salah satu mal) saya menemukan suporter yang juga membela Indonesia mati-matian tapi sumpah serapah terucap ketika timnas melakukan kesalahan.

Dari situ saya bisa melihat jenis suporter Indonesia yang sedikit banyaknya juga mewakili tipikal bangsa Indonesia.

Ternyata suporter kita terbagi dua supporter emosional VS supporter intelektual atau bisa disebut supporter karbitan VS suporter matang.

Supporter emosional atau karbitan hanya mau melihat seperti apa yang diinginkan dan melihat hasil seperti yang diinginkan secara instan. Karena itu tidak jarang supporter ini menghardik tim yang didukung jika tidak memuaskan, bahkan tak jarang karena marah mereka meluapkan emosinya dengan anarkis.

Untung saja di final AFF 2010 ini tidak terjadi peristiwa anarkis yang parah, sekalipun Indonesia tidak berhasil menjuarainya.

Cara mendukung yang brutal seringkali justru menodai tim yang didukungnya.

Tapi di masa lalu sering tak jarang kita lihat supporter justru merusak stadionnya sendiri.

Supporter jenis ini pula yang rela mencurangi tim lawan agar timnya menang.

Supporter seperti ini tidak menjadikan tim yang didukung sebagai bagian integral dalam dirinya, sehingga mereka hanya bersama ketika suka dan meninggalkan mereka ketika duka.

Supporter matang atau intelaktual, menjadikan tim yang didukung sebagai bagian dirinya.

Mereka tetap mendukung dalam suka dan duka. Kalau kalah mereka kecewa tapi mereka juga sadar anggota timnas juga tidak mau kalah. Mereka bisa menerima kekalahan dengan sportif. Apalagi kalau tim yang didukung sudah menunjukkan usaha terbaik. Mereka tahu kapan harus berbicara dan bagaimana menyampaikannya.

Alhamdulillah sekarang lebih bayak supporter jenis ini di Indonesia. Setidaknya di AFF 2010 ini.

Kita bisa lihat status dan keomentar mereka di facebook atau twirtter, dan juga di pemberitaan.

Kami tetap bangga!Bagiku kami tetap menang,

Kalian tetap pemenang di hatiku!Dan status sejenis.

Kalau saja bangsa kita bisa tetap bekerja sama sebagai satu tim untuk kemajuan bangsa, bukan saja di sepak bola, kita akan jadi bangsa besar di bidang apapun.

Pelajaran Keempat: Pentingnya Antisipasi

Dulu sering kita dengar istilah "Kalau udah kejadian baru bertindak"Alhamdulillah kali ini aparat lebih siaga dalam mengantisipasi.

Jumlah aparat, panser, semua disiapkan.

Ini langkah bagus. Hope for the best prepare for the worst.

Kita menyadari bagaimanapun emosi supporter sangat membara ketika kita dikalahkan di Malaysia.

Apalagi kekalahannya itu diwarnai oleh keyakinan adanya kecurangan dalam proses.

Karena itu tindakan antisipasi maksimal menjadi sangat penting.

Dan langkah antispasi ini juga salah satu kunci sukses penyelenggaraan final yang aman.

Karena langkah antisipasi ini juga membuat orang yang berniat buruk jadi berhati hati.

Semoga saja ini menjadi pelajaran berharga bukan saja di final AFF tapi dalam kehidupan bangsa selanjutnya.

Sehingga tidak terjadi seperti apa yang pernah terjadi sebelumnya, seperti:

Situgintung bendungannya sudah retak tidak diantisipasi jadi banjir bandang.

Ilegal logging tidak diantisipasi jadi erosi dan tanah longsor, dll.

Pelajaran Kelima: Pentingnya Memanfaatkan Momentum

Kali ini saya akan bahas dari sudut pandang bisnis dan kehidupan.

Ada perbedaan mencolok ketika saya menonton bareng di mal.

Di tempat saya nonton bareng, fastfood restoran berinitial KF, ada ratusan orang berkumpul hitungan kasar sekitar 200 s.d. 300-an orang.

Hanya 30 meter dari situ, ada fastfood MD yang kosong melompong. Hanya 1 pengunjung.

Kenapa? Karena di sana tidak ada TV.Apa artinya?Restoran MD itu tidak memanfaat kan momentum jadi sepi, sedangkan restoran satunya lagi memanfaatkan momentum dengan menyediakan TV besar.

Padahal modal televisi tersebut hanya dalam satu malam sudah bisa balik modal.

Banyak juga yang berhasil memanfaatkan momentum dengan jual kaos timnas.

Orang sukses adalah orang yang pandai mengambil momentum.

Kejuaraan FFA ini adalah momentum yang bagus untuk meningkatkan rasa kebangsaan.

Dalam kehidupan keluarga, kalau ada fim bagus untuk anak di bioskop jadikan momentum untuk acara keluarga

lalu kita bisa diskiusi isi film tersebut dengan anak-anak.

Kalau ada acara TV bagus jadikan momentum untuk nonton bersama jadi ada edukasinya.

Itulah sedikit catatan yang muncul dibenak saka setelah menyaksikan final AFF 2010

Semoga bermanfaat.

Menguji kedewasaan bangsa Indonesia

Menguji kedewasaan bangsa Indonesia

Isa Alamsyah dan Agung Pribadi (http://on.fb.me/AgungPribadi)

Masih ingat serangan Korea Utara ke Korea Selatan beberapa hari lalu?

Bagaimana menurut Anda?

Mereka satu bangsa, berbahasa sama, di antara mereka bahkan satu keluarga,

kini terpisah dan bermusuhan, bahkan status hubungan antara mereka adalah status perang dalam keadaaan genjatan senjata.

Kenapa mereka bermusuhan?

Ternyata mereka hanya korban dari perang dingin.

Mereka korban perebutan antara pengaruh Amerika dan Komunis Uni Soviet (Rusia) di masa lalu.

Kini komunis Rusia sudah hancur dan mempunyai hubungan cukup baik dengan Amerika.

Tapi Korea Selatan dan Utara tetap bersitegang akibat sisa pertarungan masa lalu.

Tentu saja bagi Korea Selatan yang sudah moderat kembali bersatu adalah impian,

tapi dokrin di Korea Uatara nampaknya masih begitu melekat.

Korea Selatan seperti musuh bebuyutan, padahal dulu mereka satu bangsa dan satu keluarga.

Mereka korban politik di masa lalu.

Ada lagi korban politik di masa lalu.

Jerman barat dan Jerman Timur.

Negeri itu dipisah dengan tembok besar dan panjang.

Ribuan orang mati di Jerman Timur karena berusaha menyeberang ke Jerman Barat.

Bayangkan saja, orang yang dahulu tetangga berjarak 300 meter tiba tiba jadi warga negara yang berbeda

dan menjadi musuh negara karena dipisahkan tembok tersebut.

Ada nenek terpisah dari cucunya, ada sepupu yang terpisah dan berbagai peristiwa memiliukan lainnya yang semua terjadi karena mereka jadi korban kekuatan politik masa lalu.

Sebagai negara kalah perang Jerman dipecah jadi dua wilayah,

satu di timur di bawah kekuasaan komunis Sovyet dan satu di bawah pengaruh Amerika.

Mereka korban politik di masa lalu, untung sahja mereka sudah bersatu.

Tapi sadarkah, kita juga menjadi korban politik masa lalu.Lihat saja Indonesia dan Malaysia.

Jika diperhatikan bahasa, dan rumpunnya, sebenarnya kita satu keluarga besar.

Satu-satunya alasan kenapa Indonesia dan Malaysia beda negara adalah karena kita dijajah Belanda

dan Malaysia dijajah Inggris.

Di masa lalu terutama diperbatasan kalimantan, dan kepulauan riau,

banyak saudara dan kerabat yang tinggal bersebrangan.

Tetapi karena proses penjajahan ratusan tahun membuat kedua bangsa ini terpisah,

bahkan lupa akar sejarah bahwa mereka bersaudara.

Jadi kalau kita merasa Malaysia mencuri ide dan budaya Indonesia, tidak sepenuhnya benar demikian.

Karena ada akar budaya Indonesia juga di Malaysia, dan sebaliknya.

Kedua bangsa ini bisa sama-sama berhak mengklaim.

Bahkan bahasa Indonesia saja adalah akarnya bahasa Melayu atau Malay,

lalu apakah Malaysia lebih berhak mengklaim bahasa tersebut, tentu saja tidak.Kita sama-sama punya hak. Nah kalau kita punya hak atas bahasa Melayu,

dalam beberapa kasus Malaysia juga punya hak mengkalim budaya tertentu karena

ada juga generasi yang sama yang hidup di sana.

Saya yakin banyak yang tidak setuju, karena kita sudah terkotak dalam katagori musuh bebuyutan

Silakan baca catatan Des Alwi:

Perlu disadari bahwa banyak pihak berpandangan negatif terhadap Malaysia karena kurangnya informasi yang lengkap dan utuh. Berdasarkan sejarah, Indonesia-Malaysia dahulu satu kesatuan. Hanya saja, karena dijajah Inggris dan Belanda menjadi terpisah. Dalam masalah budaya tentu bisa saja muncul persamaan budaya dua negara.

Misalnya polemik tentang lagu nasional Malaysia Terang Bulan yang dikatakan sebagai lagu asli Indonesia. Lagu itu sudah ada sejak Sultan Negara Bagian Perak pergi ke Inggris pada 1912. Ketika itu saya dikirim Pemerintah RI ke Hawaii untuk mencari informasi terkait lagu tersebut. Lagu itu ternyata bukan lagu dari Indonesia atau Malaysia tetapi dari Hawaii.

Di tahun 1912, pemerintah Hindia Belanda mempersiapkan Perang Dunia I, sehingga situasi di Hindia Belanda kacau balau. Masyarakat Jawa yang dipekerjakan di perkebunan Sumatra pun melakukan pemogokan besar-besaran, akibat tidak tahan kekejaman pemerintah Belanda. Mereka ingin kembali ke Jawa

Saat itulah Sultan Johor, yang berdarah Jawa, meminta agar masyarakat Jawa tidak perlu kembali ke Jawa tetapi ke Semenanjung Melayu. Masuknya tenaga kerja asal Jawa ke Malaysia itu merupakan eksodus terbesar di Johor. Sebagai konsekuensi eksodus, berbagai macam budaya Jawa ikut terbawa. Bahkan di Jahor ada nama perkampungan Ponorogo.

Catatan singkat Des Alwi ini menunjukkan banyaknya permasalahan yang muncul karena kita tidak tahu sejarah secara lengkap.

Bahkan kalau kita kaji sejarah "Ganyang Malaysia" di masa lalu, itu juga tidak terlepas dari perseteruan politik di masa lalu, bukan murni perseteruan antar anak bangsa.

Kenapa Indonesia di masa Soekarno mendeklarasikan "Ganyang Malaysia"Karena saat itu Inggris ingin memberikan kemerdekaan pada Malaysia.

Saat itu Partai Komunis Malaysia merasa kalau Inggris memberikan kemerdekaan

maka Malaysia akan menjadi boneka Inggris.

Di satu sisi Partai Komunis Malaysia ingin tampil sebagai pahlawan pembebas Malaysia dari penjajahan.

Karena kebetulan Partai Komunis Indonesia punya lobi kuat ke pemerintahan Soekarno, maka jadilah program "Ganyang Malaysia" tersebut.

Jadi konfrontasi Indonesia Malaysia itu sama saja dengan apa yang terjadi di Korea Utara dan Selatan, Jerman Barat dan Timur, tidak lebih dari percikan pengaruh komunisme di dunia.

Intinya, tidak ada itu yang namanya musuh bebuyutan antara Indonesia dan Malaysia.

Mungkin ada yang masih protes:

Malaysia kejam terhadap TKI. Well yang jahat dengan TKI bukan cuma Malaysia (itupun oknum), di timur tengah juga ada (itupun oknum), bahkan yang paling jahat justru Bangsa Indonesia sendiri (itupun oknum).

Banyak yang mengirim TKI tanpa perlindungan, para makelar mengambil untung banyak padahal TKI dapatnya sedikit.akhirnya pihak pemakai jasa merasa sudah membayar mahal. TKI yang pulang bawa hasil kerja tahunan dibius penjahat dan uangnya diambil, dan banyak hal lain.

Kalau kita membenci Malaysia lebih dari yang lain, tidak lain karena kita korban politik masa lalu,

dan karena merasa mereka adalah musuh bebuyutan. Which is wrong.

Banyak yang lebih jahat terhadap Indonesia.

Ada bangsa yang mengeruk emas di Indonesia, bangsa yang mengeruk kekayaan alam Indonesia dengan perjanjian menekan dan membiarkan kita dalam kebodohan. Ada bangsa yang menjerat kita dalam hutang padahal mereka tahu solusi lain yang bisa menolong Indonesia dengan memberdayakan SDM dan kekayaan alam.

Saya tidak perlu sebutkan bangsa apa itu, mudah sekali mencari datanya.

Tapi sekali lagi, tidak mungkin bangsa kita bisa diperdaya tanpa ada anak bangsa yang berkhianat dengan korupsi, dengan nepotisma dan kemalasan.

Intinya apa? Tidak perlu bermusuhan dengan bangsa lain, perlu juga memperbaiki diri.

Kita harus sadar bahwa dunia ini begitu luas.

Di dunia ini ada yang namanya persaudaraaan universal antar manusia.

Ada ukuhuwah Islamiah, persaudaraan antar umat beragama.

Ada persaudaraan antar bangsa.Jadi jangan mau kita terpecah belah hanya karena masalah kecil,

hanya karena permusuhan yang sebenarnya tidak ada.

Kedewaaan kita di uji.

Tidak perlu ada perpecahan atau permusuhan.

Saat ini dunia trennya justru sedang menyatu

Eropa kini menyatu dengan Uni Eropa bahkan mata uangnya jadi satu.

Kini mata uang Uni Eropa juga menjadi mata uang di Eropa Timur.

ASEAN bahakan ke depan bisa menyatu mata uangnya menjadi mata uang ASEAN.

Jadi dunia sedang dirancang ke arah lebih baik, tapi banyak yang masih terpaku pada masa lalu.

Garuda di dadaku!

Kita harus cinta negeri ini.Kita harus bangkitkan negeri ini.

Tapi tidak perlu menciptakan musuh untuk bersatu.

Dunia yang damai tetap lebih baik

Hati yang damai tetap lebih tentram.

Menang curang atau Kalah jujur?

Menang curang atau Kalah jujur?

Isa Alamsyah

Tentu tidak mudah bagi bangsa Indonesia untuk melihat timnasnya dikalahkan dengan angka cukup telak.Lebih menyakitkan lagi kita melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana laser hijau menyinari Firman menjelang sepak pojok atau sinar hijau di wajah Markus atau di pemain lainnya yang tidak tertangkap kamera.

Bagaimanapun harus diakui Malaysia main bagus, tapi tidak bisa dipungkiri insiden laser hijau ini sangat mempengaruhi ritme dan kualitas permainan timnas Indonesia.

Sangat mungkin ketika Indonesia sibuk memprotes dan marah, timnas Malaysia malah punya waktu untuk kordinasi ulang.Ketika timnas masuk kembali dengan rasa kurang puas, timnas Malaysia malah masuk dengan semangat baru.Karena itu terlihat jelas justru setelah waktu time out, Malaysia bermain jauh lebih siap.

Apakah ini excuse untuk melegalkan kekalahan kita?Tentu saja kita tidak boleh excuse. tapi menganalisa kekalahan tetap penting untuk melakukan perbaikan.

Yang jelas saat ini di atas kertas kita sudah kalah. Lalu bagaimana?

Kita pilih mana?

Menang curang atau kalah jujur?

Apa jawaban Anda?

Apa pilihan timnas kita?Kalau saya boleh kasih saran maka saya akan sarankan pilihan

MENANG DAN JUJUR

Itu pilihan terbaik dan kita harus membuktikannya.

Kalau saja timnas atau official sempat membaca tulisan di komunitas bisa, sudah banyak ulasan yang mungkin bisa membantu semangat kita untuk mencapai kemenangan yang masih terbuka.

Ingat artikel dendam positif?Ini saatnya membangkitkan dendam positif untuk mencapai kemenangan.

Dalam surat kabar Malaysia beberapa hari lalu saya sempat baca kutipan bagaimana pemain Malaysia sesumbar ingin membalas dendam kekalahan mereka di bukit jalil. Dan kini sudah terbukti.Kini saatnya Timnas Indonesia yang membangkitkan dendam positif.

Ingat kata positifnya. Dendam positif - dua kata ini harus digabung tidak boleh dipisah.

Jadi buat supporter jangan membalas dendam laser hijau dengan petasan, lampu sorot atau perangkat curang lainnya.

Kini saatnya kita buktikan dengan yell yell dan lagu yang bersemangat, dengan permainan yang sportif, timnas kita bisa jaya.

Kalau kita balas kecurangan dengan kecurangan yang sama, kalaupun kita menang sulit untuk bangga.

Ingat artikel 'selama masih ada waktu ada harapan'?Ya, semangat ini yang harus kita pegang.

Kita masih ada waktu untuk membalas kekalahan sampai peluit terakhir nanti ditiup.

Jadi masih ada beberapa hari plus 90 menit plus beberapa menit additional time.

Selama masih ada waktu, selama belum ditiup pluit akhir, kita masih ada harapan.

Ingat artikel " Yang penting usaha bukan hasil, bijak tapi menyesatkan"?Ya, kita bangsa Indonesia akan menghargai kerja keras timnas.

Kita tidak boleh menghujat apapun hasilnya, sepanjang mereka bekerja keras dan melakukan usaha terbaik.

Tapi, jika kita menjadi juara tentu merupakan kebahagiaan yang tak terhingga,

Jadi tugas timnas untuk mencari cara untuk menang, tentu saja dengan cara halal.

Tugas suppoter untuk memberi semangat agar mereka menang, dan tentu saja dengan cara halal.

Masih ingat artikel "Kaca ajaib"Akhirnya keputusan menang atau kalau ada di masing-masing individu pemain, individu manajemen,

dan individu supporter.Setiap individu harus menjadikan diri sendiri sebagai tumpuan harapan.

Defender harus memastikan tidak ada bola yang melewati mereka,

penyerang harus memastikan menendang bola akurat ke gawang,

pelatih harus memastikan memilih strategi dan pemain terbaik,

manajeman memastikan tidak mengganggu latihan dan konsentrasi

dan supporter harus memastikan dukungannya dan komentarnya tidak mengganggu konsentrasi pemain.

Apalagi belum pertandingan saja, baru beli tiket udah ada insiden, ini jelas tantangan tambahan.

Masih ingat artikel "Dialog anak bangsa pro no excuse! dan pro excuse!"Kita punya segudang alasan atau excuse untuk kalah

Tapi juga punya segudang alasan untuk menang

Jadi pilih mana,

cari alasan untuk menang atau kalah?

No Excuse!

Kalau dibahas terus, hampir semua artikel di komunitas bisa dihubungkan dengan persiapan kemenangan kita.

Tapi nampaknya tidak perlu ditambah lagi,

yang penting kita harus yakin Kika BISA menang,

Kita mau mengabaikan semua EXCUSE untuk tidak menang

Kita mau mencari cara untuk menang.Dan kemenangan akan semakin dekat.Bravo Indonesia

Dialog antara anak bangsa pro no excuse! dan pro excuse!

Dialog antara anak bangsa pro no excuse! dan pro excuse!

Isa Alamsyah

Excuse (dalih/ pembenaran) adalah salah satu penyakit paling berbahaya untuk bangsa ini.

Sampai kapanpun kita tidak akan menjadi bangsa besar selama kita menemukan excuse untuk tidak menjadi bangsa besar.

Silakan simak dialog imajiner anak bangsa pro excuse dan pro no excuse:

No Excuse!: Percayakah kita bisa menjadi bangsa besar?

Pro excuse!: Susah kayaknya, bangsa kita sudah kebanyakan hutang.

No Excuse!: Buktinya Inggris dan negara Eropa yang hancur dan banyak hutang akibat perang dunia II sudah maju sekarang! Jadi hutang tidak bisa jadi excuse.

Pro excuse!: Tapi mereka (Bangsa Eropa) kan sudah punya basis ilmu dan intelektual. Banyak intelektual.

No Excuse!: Buktinya Malaysia yang dulu banyak belajar dari Indonesia, bangsa yang dulu basis intelektualnya kalah dengan Indonesia, sekarang lebih maju dari Indonesia. Jadi basis intelektual tidak bisa jadi excuse.

Pro excuse!: Ya tapi kan mereka (Malaysia) dijajahnya sama Inggris bukan sama Belanda jadi lebih maju dari Indonesia.

No Excuse!: Buktinya negara-negara Afrika yang dijajah Inggris sekarang banyak yang masih terbelakang, kalah dengan Indonesia. Jadi siapa yang menjajah tidak bisa jadi excuse untuk kalah bersaing.

Pro excuse!: Jangan samakan dengan Afrika dong, biarpun di jajah Inggris, mereka kan memang bangsa terbelakang.

No Excuse!: Tapi kenyataannya Afrika Selatan kini menjadi negara yang sangat maju, sekalipun sebagian besar pos penting dipegang bangsa Afrika sendiri.

Pro excuse!: Betul, betul, tapi tetap saja susah, karena bangsa Indonesia kan penduduknya banyak.

No Excuse!: Tapi Cina yang penduduknya 5x lipat bangsa Indonesia kok bisa lebih maju.

Pro excuse!: Betul, tapi kan mereka penduduknya dipaksa dalam regim komunis, tidak bebas.

No Excuse!: Tapi penduduk Amerika lebih banyak dari Indonesia dan bebas tetap lebih maju...

Pro excuse!: Ya, Amerika kan punya sejarah panjang

No Excuse: Amerika baru ditemukan abad 17, kita sudah ada sejak 6 masehi.

Pro excuse: ....

Sudah stop dulu...

Saya bisa bikin dialog ini tidak pernah selesai.

Tapi yang paling penting...

Jika kita ingin bangsa ini maju, kita harus temukan alasan untuk bisa maju.

Kalau yang kita cari dalih (excuse) untuk tetap begini-gini saja,

sangat mudah menemukan alasannya.

Mau membuat bangsa kita menjadi bangsa besar?Pasti Bisa!

No Excuse!

Kisah Seorang Pemeriksa Pajak Melawan Korupsi Sebagai Pegawai Departemen Keuangan

Dishare oleh Agung Pribadi (www.facebook.com/AgungPribadiPenulis) kontributor Komunitas Bisa! (http://on.fb.me/KomunitasBisa)

Kisah Seorang Pemeriksa Pajak Melawan Korupsi Sebagai Pegawai Departemen Keuangan

Saya tidak gelisah dan tidak kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja.

Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali.Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapisebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.

Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan . Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan danmelawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras.

Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya. Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman.

Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi. Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan konsistensi kita.

Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami alami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yg penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah. Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga.

Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan , saat itulah mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka bisa memahami. Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak.

Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya dimata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulahketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti in seperti sudah direkayasa.

Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya.

Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak. Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar.

Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi.

Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain. Karena dirasasulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi.

Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunyaanggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya jugasadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah.

Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depankepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.

Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabatdan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, “Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik.” Saya katakan, “Tdak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.” emudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yangselama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien.

Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap. Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwamereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau. Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang.

Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mndengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur. Ia lalu mengatakan “lhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai,” katanya Ternyata di luar pengatahuan saya,alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun.

Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta.

Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan. Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi. Dalam forum itu, sayalempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, “Makan uang itu satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian.”

Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang.

Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitumendesak.

Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik- detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa istri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.

Saya mau bicara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Diadapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit.

Wallahu a’lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas.

Alhamdulillah. Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?

Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhanitu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, “Kenapa tidak bilang-bilang?” Saya sampaikan karena tidak sempat saja.

Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah. Saya berusaha tidakterjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga.

Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, Saya berusaha dari awal tidak demikian.Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru. Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah.

Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, “Uang setan ya dimakan hantu.”

Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yangsemula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.

Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memerasdan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.

Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jumat atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jumatan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga. Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya.

Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajinsholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur?an. Tetapi mereka sulit berubah. Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain.

Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan. Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana- sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan.

Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara. Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja.

Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Sayaberharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan (matanya berkaca-kaca) .

Sumber: ( Majalah Tarbawi Edisi 111 Th. 7/