• slide 1

    No Excuse! for Professional and Worker

    Workshop yang dirancang untuk melepas hambatan excuse, sehingga produktivas kerja dan penghasilan akan berlipat ganda

  • slide 2

    Workshop Menulis

    Workshop yang dirancang untuk menanamkan dasar-dasar kepenulisan hingga Anda siap menghasilkan warisan karya yang abadi

  • slide 3

    No Excuse! for Education

    Raih hasil terbaik di dunia akademisi dengan menaklukkan segala excuse yang menghambat kesuksesan di dunia pendidikan

  • slide 4

    Buku dan Penerbitan

    Abadikan ide Anda. Ternyata membuat buku lebih mudah dari mengarang satu buah cerpen. Terbukti di sini.

  • slide 5

    Workshop Menulis Anak dan Remaja

    Kemampuan menulis akan sangat bermanfaat untuk masa depan anak-anak. Yang penting ditanamkan adalah kecintaan pada menulis dan dasar penulisan yang benar

  • slide 7

    Workshop dan Seminar Jurnalistik

    Jurnalisme bukan sekedar berita, informasi atau bacaan, tapi cara kita menjadi bagian perubahan dunia

  • slide nav 1

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya
  • slide nav 2

    Workshop Menulis

    Metode terkini, update, mudah diaplikasikan dan karya layak akan diterbitkan
  • slide nav 3

    No Excuse! for Education

    Pendidikan dengan semangat No Excuse! akan menjamin masa depan bangsa
  • slide nav 4

    Workshop Buat Buku

    Membangun semangat untuk minimal menghasilkan satu karya buku sebelum mati
  • slide nav 5

    Workshop Menulis Anak

    Menumbuhkan rasa cinta dan kemampuan membaca dan menulis sejak dini
  • slide nav 6

    Workshop Jurnalistik

    Membangun media sebagai salah satu pilar perubahan untuk masa depan lebih baik
  • slide nav 7

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya

Selamat Datang di Komunitas Bisa!

Anda bisa melakukan segala hal jauh lebih hebat dari yang Anda kira!

Delete this element to display blogger navbar

Guru baik, Ibu Jahat (No Excuse! for Parent and Family)

Posted by Isa Alamsyah at 10:17 AM
Guru baik, Ibu galak (No Excuse! for Parent and Family)

Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang suami yang bercerita tentang perilaku istrinya.
Istrinya adalah seorang guru TK yang sangat disukai anak-anak.
Ia terkenal sabar dan telaten jika menghadapi anak-anak.
Sekalipun anak-anak nakal dan mengganggu sang istri sebagai guru TK
tetap bisa menghadapi mereka dengan senyum.

Akan tetapi itu tidak terjadi di rumah.
Setelah pulang ke rumah, istrinya sama sekali jauh dari wanita ramah.
Ia sering kali marah kepada anak-anaknya
yang juga masih kecil sebagaimana anak-anak TK di sekolah.
Jika anaknya nakal ia menegurnya kasar.
Jika anaknya mengganggu ia dengan kasar mengabaikan.
Memang sang istri tidak memukul anak-anaknya,
tapi sang suami melihat begitu jauh perilaku istrinya sebagai guru TK
di sekolah dan sebagai ibu di rumah.

Tak tahan melihat perilaku sang istri, akhirnya suami bertanya;
"Berapa sih kamu di gaji di TK?" Kamu kok bisa ramah benar kalau di TK?
Begini saja, saya gaji kamu sebagaimana kamu digaji di TK,
tapi kamu harus seramah kamu ketika menjadi guru TK di sana?"


Kenapa hal tersebut terjadi?
Karena sang Istri menerapkan prinsip No Excuse! secara sepotong-sepotong.
Ketika di TK, ia bisa menahan diri untuk marah kepada murid TK,
Ketika di rumah ia tidak bisa bersikap sama.
Di rumah dia bisa excuse, "Ibu lagi cape jadi jangan ganggu ibu dulu."
Tapi di sekolah sebagai guru tidak mungkin dia bilang ke murid: "Bu Guru cape, jangan ganggu dulu!"

Ya itu salah satu masalah kita dalam parenting.
Banyak di antara kita yang bisa menjadi profesional worker tapi tidak bisa menjadi profesional parent.
Di dunia profesional kalau kita berhadapan dengan klien, marah sekalipun kita tetap bisa menahan diri untuk tidak menuangkan amarah, seharusnya juga begitu di rumah.
Sekalipun marah, sebagai profesional parent kita harus bisa menahan marah.
Kita hanya marah kalau dibutuhkan, dalam dunia profesional pun kita mengenal konsep complain - marah untuk sesuatu yang proporsional.

Di dunia profesional kita dengan ramah sering menyapa orang ketika berpapasan bahkan yang kita tidak kenal.
Di rumah, dengan anak sekalipun kita juga harus saling menegur sapa.

Untuk menjadi profesional parent prinsipnya sederhana,
Kita sebagai ayah atau bunda adalah profesional,
klien kita adalah anak-anak dan keluarga.
Service kita adalah untuk menyiapkan masa depan terbaik untuk mereka.
Setiap tindakan kita harus menujang semua itu.
Dan garis bawahi: Tidak ada excuse untuk melanggar sekalipun cape, sekalipun waktu mendesak, lagi lembur, dsb.
Kita harus mengatur segalanya berjalan baik, di rumah di tempat kerja, atau keluarga.
Tapi yang berat dalam parenting adalah kadang kita harus bersikap sebagai teman, sebagai guru, sebagai murid, sebagai pemimpin, sebagai pendamping dan semua harus dilakukan dalam proporsi dan waktu yang tepat.

Memang tidak mudah tapi ada caranya.
Karena itu kami menyelenggarakan workshop "Sakinah Family" yang bertujuan untuk membangun keluarga sejahtera, bahagia dan profesional.

Sesi 1:
Membangun keluarga kuat mental dan spiritual dengan spirit No Excuse!
Instruktur: Isa Alamsyah

Bagaimana Islam mengajarkan budaya No Excuse?
Bagaimana membangun budaya No Excuse! di rumah?
Bagaimana membangun keluarga profesional tapi menyenangkan?
Apa saja budaya No Excuse yang ada hampir di setiap keluarga tanpa disadari orang tua?
Bagaimana membangun disiplin tapi fun?
Bagaimana menyikapi pendidikan di sekolah yang makin membebani, tetap berprestasi tapi tidak stres? Temukan cara menaklukkannya!
Bagaimana bersikap profesional sebagai ayah, bunda, dan menanamkan sikap profesional sebagai anak.

Sesi 2:
Membangun keluarga kuat finansial dengan konsep Think Dinar!

Bagaimana meningkatkan penghasilan rumah tangga?
Kenapa dinar lebih powerful dari menabung, asuransi pendidikan, deposito, tabungan haji, tabungan pensiun, main saham, main property, atau metode finansial lain yang diketahui banyak orang
Instruktur: Endy J. Kurniawan

Sesi 3:
Membangun keluarga harmonis dengan spirit "Sakinah Bersamamu"
Instruktur: Asma Nadia
Keluarga yang bahagia bukanlah keluarga yang sempurna tapi keluarga yang bisa mengoptimalkan segala potensi dalam ketidaksempuranannya.
Bagaimana menyikapi ketidaksempurnaan?
Bagaimana menciptakan hubungan yang lebih harmonis dengan apa yang ada?
Temukan trik-triknya.

Hadiri Seminar Workshop Spektakuler 3 ini 1
Seminar dan Workshop Paket terlengkap dan termurah
"Sakinah Family"

Acara : 26 Februari 2011
Pukul : 09.00 - 17.00
Tempat: Jakarta Design Center Slipi Jakbar
Investasi: Rp 200.00 untuk 20 pendaftar pertama
Rp 250.000 untuk pendaftaran sebelum 15 Feb,
Harga Normal Rp 300.000 setelah tanggal 15 feb
(Untuk suami istri berdua Rp 400.000)
Tempat terbatas. Info Roonie: 081282210742


34 comments :

  1. Asma Nadia said... :

    Good writing ayah. Koreksi dikit waktu workshop sd 17.00:)

  1. Isa Alamsyah said... :

    Ok Bunda, sudah direvisi, tapi yang terkirim ke member bisa! sudah terkirim, salah waktunya

  1. Lia said... :

    Saya tertarik banget nih....
    cuman, kok jauh banget ya...mesti k Jakarta..
    Coba kalo d Garut atau Bandung deh...

    btw; bisa ga kira2 ngadain disini?
    Biar nanti saya bantu persiapannya..

    Ok, mas?

  1. nita delina said... :

    co2k dgn kbthan sya saat ini yg sdang dbingungkn oleh remaja yg brmsalah. Tp sya jd bingung ya, dgn htm nya antra hrga normal dgn pasutri. Jd kl sya daftr skr b2 dgn suami, total yg hrus dbyar brapa ya?

  1. Nchie Hanie said... :

    Pagi Pak Isa..
    Semoga sehat selalu..

    Sungguh teganya..teganya..
    Ibu,masa ma anaknya begitu??

    Tapi memang bener Pak Isa,sahabatku kepsek TK rangkap guru juga,dia suka mengeluh tentang anaknya yg aktif dan ketidak sabarannya dalam mendidik dan mengurus kedua buah hatinya,hampir sama tuh kasusnya sama yang di atas..

    Kayanya mesti ikutan seminar workshop ini yah heheh*promosi juga*
    Tapi kejauhan di Jakarta,nanti deh kalo di Bandung insyaallah ikut.
    Kemarin2 aku kan ikut juga workshopnya Mba Asma di Bandung tuh..

    salam

  1. Isa Alamsyah said... :

    Lia: Untuk penyelenggraan di daerah, kita menunggu kerja sama dari panitia lokal

  1. Isa Alamsyah said... :

    nita delina: HTM NOrmal 300 ribu, kecuali 20 pertama. Harga pasutri berdua Rp 400.000 sekalipun tidak 20 orang pertama

  1. Isa Alamsyah said... :

    Nchie Hanie: Memang begitu, kalau kita bekerja karena digaji kita profesional. Di rumah karena digaji seiklasnya saja. Padahal kita juga digaji dan diamanahkan dari atas.

  1. Happy Hawra Muslimah said... :

    Jadi kita itu harus profesional dalam hal apapun, hehe :D

  1. Isa Alamsyah said... :

    Happy Hawra Muslimah: Betul, seperti status muslim, muslim dahulu sebelum lainnya

  1. an interesting and usefull note... especially for me as a teacher...!
    begitulah seharusnya... kita hrs mnjd profisional di sgl lini kehidupan... sbg IRT... bgimn memanage RT dng kemampuan yg tdk hnya sktr sumur, dapur dn kasur... ttp bgimn dia bs mncetak ank2 yg tdk hanya mmpunyai IQ yg bs dibanggakan to jg memiliki ESQ yg cantik...
    ini tantangn utk IRT jmn sekarang yg bgt trs berat... krn saat ini jaman sdh tdk sm dng jamn dimn kt msh kcil dulu...
    I LIKE THIS NOTE MUCH...!

  1. Isa Alamsyah said... :

    Nina Siblie Buhari: Betul Bu, membangun masa depan dari rumah

  1. Desy Triyanti said... :

    Begitulah beratnya menjadi IRT..bahkan tak jarang hopeless menyapa...mudah2an tetap semangat

  1. Isa Alamsyah said... :

    Desy Triyanti: Mempunyai anak buat kita adalah pilihan, sedangkan anak dilahirkan bukan pilihan mereka, jadi kita harus bertanggung jawab untuk membesarkan anak dengan baik.

  1. Emma Wardhana said... :

    Great,ijin share Ɣªª

  1. Viana AzZahraa said... :

    siiip

  1. Dhanik Andreastuti said... :

    agree,,,,,

  1. Isa Alamsyah said... :

    Viana AzZahraa: thanks
    Dhanik Andreastut : thanks

  1. Evi Kurnia Novianty said... :

    aku di palembang, gimana bisa ikutan....???

  1. Isa Alamsyah said... :

    Evi Kurnia Novianty: Kalau mau hadir ke Jakarta dipersilakan

  1. Weni Widiafransi said... :

    Subhanallah...selalu ada yg istimewa :::: Ide2nya selalu segar dan mberi inspirasi...Smoga selalu terjaga. -)

  1. Isa Alamsyah said... :

    Weni Widiafransi: thanks

  1. Pina Ricky said... :

    jadi semuanya itu, biarpun secape' apapun kita, kita hrs sabar...dlm melayani di rt..amin..

  1. Isa Alamsyah said... :

    Pina Ricky: Betul, tetap semangat

  1. Lenny Agustina said... :

    dulu sih wkt blm maried aku cenderung galak,alhamdl pas anak lahir (2008)terbit catatan hati bunda,belajar untuk lebih sabar gitu...hehehe

  1. Isa Alamsyah said... :

    Lenny Agustina: Alhamdulillah

  1. Erlita Fujiawati said... :

    ya sama seperti yg aq alami,aq ngajar dsd klo dkelas sbsa mungkn sabar,tp klo udah drmh cpt marah.......

  1. Isa Alamsyah said... :

    Erlita Fujiawati: Be profesional and proportional

  1. Riska Sisna R said... :

    Ayah saya pernah berkata sewaktu saya masih lajang : "Sayangilah anak-anak sebelum punya anak"... artinya, rasa sayang pada anak harus tumbuh dalam setiap jiwa, terutama perempuan.. bahkan sebelum anak itu hadir ke dunia..

  1. Isa Alamsyah said... :

    Riska Sisna R: Nice advice, indeed

  1. Elly said... :

    Komen lg disini, pak...sy share di wall fb ... makasih pembelajarannya ya...

  1. Anonymous said... :

    laser tedjasukman dolo istri saya juga galak. skr alhamdullilah sudah tidak pernah lagi

  1. RANDY KARMAN said... :

    di pukul aja waktu kecil...mumpung masih kecil

Post a Comment

 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More