• slide 1

    No Excuse! for Professional and Worker

    Workshop yang dirancang untuk melepas hambatan excuse, sehingga produktivas kerja dan penghasilan akan berlipat ganda

  • slide 2

    Workshop Menulis

    Workshop yang dirancang untuk menanamkan dasar-dasar kepenulisan hingga Anda siap menghasilkan warisan karya yang abadi

  • slide 3

    No Excuse! for Education

    Raih hasil terbaik di dunia akademisi dengan menaklukkan segala excuse yang menghambat kesuksesan di dunia pendidikan

  • slide 4

    Buku dan Penerbitan

    Abadikan ide Anda. Ternyata membuat buku lebih mudah dari mengarang satu buah cerpen. Terbukti di sini.

  • slide 5

    Workshop Menulis Anak dan Remaja

    Kemampuan menulis akan sangat bermanfaat untuk masa depan anak-anak. Yang penting ditanamkan adalah kecintaan pada menulis dan dasar penulisan yang benar

  • slide 7

    Workshop dan Seminar Jurnalistik

    Jurnalisme bukan sekedar berita, informasi atau bacaan, tapi cara kita menjadi bagian perubahan dunia

  • slide nav 1

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya
  • slide nav 2

    Workshop Menulis

    Metode terkini, update, mudah diaplikasikan dan karya layak akan diterbitkan
  • slide nav 3

    No Excuse! for Education

    Pendidikan dengan semangat No Excuse! akan menjamin masa depan bangsa
  • slide nav 4

    Workshop Buat Buku

    Membangun semangat untuk minimal menghasilkan satu karya buku sebelum mati
  • slide nav 5

    Workshop Menulis Anak

    Menumbuhkan rasa cinta dan kemampuan membaca dan menulis sejak dini
  • slide nav 6

    Workshop Jurnalistik

    Membangun media sebagai salah satu pilar perubahan untuk masa depan lebih baik
  • slide nav 7

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya

Selamat Datang di Komunitas Bisa!

Anda bisa melakukan segala hal jauh lebih hebat dari yang Anda kira!

Delete this element to display blogger navbar

Supply and Demand Dalam Kebaikan

Posted by Isa Alamsyah at 5:40 PM

Supply and Demand dalam kebaikan
Isa Alamsyah

Saat itu kami sedang ngantri di Bioskop untuk nonton film "Rumah Tanpa Jendela"
di salah satu bioskop 21.
Antrian cukup panjang membuat kami menduga-duga apa yang akan ditonton.
Di belakang counter ikut terpampang "Hari ini" : Cinema 1: Rumah Tanpa Jendela, cinema 2: Pocong Negesot, cinema 3: Arwah Goyang Kerawang, cinema 4: Jenglot.
Wah, 1 banding 3 nih.
1 inspiring movie 3 horor (apa juga kotor saya gak tahu karena belum nonton).
Apa "Rumah Tanpa Jendela " menang?

Kalau dalam politik biasanya kalau ada 1 kandidat yang berbeda (aliran politik A) melawan 3 kandidat yang mirip (Aliran B), biasanya yang sendiri menjadi lebih mungkin untuk menang. Kenapa karena pendukung ideologi yang mirip (B) akan terpecah ke tiga kandidat ke B1,B2 atau B3.

Bagaimana dengan RTJ?
Ketika kita tanya ke counter ternyata, penontonnya lumayan.
Tapi masih kalah sama yang ini, sambil menunjuk film-film horor yang ada.
Walah.

Di depan kami ada ibu dan anak yang 'ribut 'mau nonton apa.
Si ibu ngajak anaknya yang masih SD nonton "Rumah Tanpa Jendela", tapi si anak maksa nonton film horor.
Akhirnya ibu ngalah dan mereka nonton film horor. Waduh.

Lalu ada juga di depan seorang wanita berjilbab bersama pria.
Mereka ngantri tak jauh dari kami.
Ketika di tanya mau nonton apa, si wanita berjilbab pilih salah satu film horor. Gubrak.

Ternyata sekalipun tiga layar horor satu "Rumah Tanpa Jendela", sekalipun penggemar film horor dan klenik sudah terpecah tiga layar, jumlah penontonnya masih bisa mengimbangai bahkan mengalahkan "Rumah Tanpa Jendela."

Ini sebabnya produser film akan tetap menyediakan film-film horor.
"DEMAND-NYA TINGGI" permintaannya banyak, peminatnya banyak.
Betulkah?

Sebenarnya tidak juga.
Film horor tidak ada yang menyentuh penonton lebih dari 1 juta (Hanya ada sedikit saja, sejauh ini hanya 1 film horor menyentuh angka 1 juta).
Sedangkan film baik, Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, bisa menyentuh angka 3-4 jutaan.
Artinya orang yang merindukan film inspiring lebih banyak dari film horor.
Lalu kenapa banyak film baik banyak berguguran?
Karena orang baiknya "SILENT MAJORITY" dukung tapi diam, nonton kalau sempat bukan menyempatkan.

Lalu bagaimana dengan DEMAND horor yang tetap ada?
Dalam agama, agama apapun, kita dianjurkan untuk mendukung kebaikan, dan melawan keburukan.
Jadi bukan mendukung yang demand-nya tinggi.
Jika keburukan demand-nya tinggi yang bukan disupply tapi ditekan.
Jika kebaikan demand-nya rendah, bukan dibiarkan tapi harus dipromosikan kebaikannya.

Tugas kita dalam kapasitas sebagai individu masyarakat adalah mendukung film baik, buku dan karya baik lainnya. Untuk film kita bisa mulai dengan menonton, mengajak keluarga nonton, merekomendasikan, mempromosikan, dsb.

Sedangkan pemerintah seharusnya berfungsi untuk memastikan film yang beredar baik untuk masyarakat.
Apakah itu tidak demokratis?
Pemerintah kita dipilih secara demokratis, jadi kalau pemerintah memutuskan melarang itu "DEMOKRATIS" atau mewakili rakyat. jadi gak usah takut.
Kalau perlu DPR buat semacam undang-undang anti klenik, karena ini cukup mengganggu intelektual bangsa.

Sebenarnya sudah ada Badan Sensor yang bertugas menjaga.
Jika Badan Sensor tidak punya visi, atau kalau punya visi tidak punya keberanian, coba saja kementrian pendidikan, menteri informasi atau kementrian agama perkarakan film yang beredar. Kalau saja mereka sadar ini bisa merusak generasi, kenapa tidak?
Biar hakim yang memutuskan.
Kalau dari pemerintah tidak jalan, ya LSM.
Tapi ingat jangan sampai mempekarakan malah jadi mempromosikan.
Kalau tidak ada juga, ya seperti saya, menulislah, setidaknya itu menggerakkan.

Tonton filmnya, tulis status di, FB. komen di twitter, buat rekomendasi, buat resensi, what ever yang bisa membuat perfilman Indonesia menjadi lebih baik.


13 comments :

  1. Anonymous said... :

    yes ...kebaikkan yang membaikkan diri dan orang banyak harus terus maju...

  1. Anonymous said... :

    Wah, saya belum mendukung film yang baik ya... soalnya saya dan keluarga belum pernah akan merencanakan nontom film bioskop...hehehe..

  1. Agus Salim said... :

    Semoga tetap semangat berbagi kebaikan walau hanya sebiji sawi.

  1. Semoga film Indonesia film yang tidak segera di sensor dan jangan sampai kecolongan. Jujur saya juga belum pernah nonton di bioskop.

  1. darisjati said... :

    tadinya mo nonton, tapi pemeran ayah rara kok si Rafi ahmad. Gak cocok kaleee. Gak jadi nonton dah, hehehe

  1. Berthy adiningsih said... :

    Kalau tolak ukurnx cuma jabodetabek susah y mas isa.
    Misalnya saja,di daerah saya tidak punya bioskop. Kami nonton cuma lewat televisi, sdgkan jika dtayangkan hanya yg punya nama alias peminatnx bnyk dbioskop. Menurut saya, sebaiknx filmaker yg inspiring itu jual hak tayang dtelevisi tanpa perlu menunggu hari2 tertentu spt hari anak atau libur nasional.
    Mengingat yg menghitung rating di indonesia cuma 1 tanpa pesaing sehingga resiko 'main-main' lebih besar,bgmana jika dibuat program tv di stasiun tv non-entertainment mengenai ini. Atau dirikan LSM sendiri,jadi jika trnyata inspiring movie ratenx tinggi, semakin mudah pembuat2nx promosi pd produser untuk karya selanjutnya.
    Kaskus,salah satu site yg sangat populer di indonesia bs diajak kerjasama membentuk pandangan publik. Tp krn rata2 anak muda yg nyemplung kesana, misalnx diadakan semacam awards, sebaiknx disorot media lain. Mungkin seperti award yg biasa muncul di acara2 musik tv kita, beda tempat beda pemenang. Jd sxpun kalah atau bahkan tdk masuk nominasi dlm ajang sesungguhnx, setidaknx kita punya pembanding. Teknisnx, silahkan cari yg ahli.
    Saia pribadi jg suka horor,ini masalah selera kan? Tp saia jg tdk suka dgn horor yg kotor. Ga perlu nonton, tgl liat judul, review, atau pemainnx cukup ngertilah. Saia suka dgn horor yg beneran horor, seperti macabre milik mo brothers, two people dari korea atau butterfly effect.
    Teman2 yg mengerti di jakarta jg bs bikin program tv untuk review film2 seperti situs sinema-indonesia.com tentunx dgn gaya yg lebih 'manis', menyusun nilai moral yg dpt diambil kalau2 penonton tdk bisa ambil kesimpulan sendiri,atau nilai moral yg diambil menyimpang dari yg diniatkan pembuat.
    Pfiuh,maaf panjang... Udah dulu y,makasih ^^

  1. Anonymous said... :

    insya Alloh saya dan keluarga berencana untuk menonton film rumah tanpa jendela,apakah masih diputar di bioskop?,semoga tetap semangat menyebar kebaikan melalui media cinema,buku,dll.

  1. Willy said... :

    hahaha
    mas anak muda yg nnton cba tanya dah jalan critanya???
    kbanyakan g tau,,, cma liat adegan syur aja, n nunggu adegan seram agr ce nya dekap dia,,,

    itu mas tujuannya,,,

    untungnya saya ama tman2 lbih suka rame2 nnton laskar plangi dr pada horor (waktu itu)

  1. Anonymous said... :

    wah br nnton laskar pelangi aja, itu jg stlh diangkat kisahny di kick andy, kt jd beli buku tetraloginya & pas difilmkan, pnasaran pgn nnton deh,tnyt mngharukan & sarat muatan positif,mski memg lbh lngkap di bukunya. Skr lg bc bk negri 5 menara & lnjutanny ranah 3 wrna. Kl difilm kan mau deh nntnnya. Kl RTJ, blm ngeh ttg apa, hehe kurg heboh nih promosinya,apa msti diangkt dl di kick andi kali ya :-)

  1. Anonymous said... :

    Nice info.
    Saya sangat setuju dgn Bapak.

  1. Bataalami said... :

    Kurang Promosi mas Film nya.... Jadi hati mereka tak bergerak untuk mau liat film inspiratif..

  1. Anonymous said... :

    Masih ada harapan,,,
    Insya Allah :)

  1. Anonymous said... :

    walau banyak sedikit itu bukan jadi standar kwalitas, tp hrs qt dukung sll film2 yg membangun karakter sprti ini.. maju trus pak isa n family.. salut..

Post a Comment

 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More