• slide 1

    No Excuse! for Professional and Worker

    Workshop yang dirancang untuk melepas hambatan excuse, sehingga produktivas kerja dan penghasilan akan berlipat ganda

  • slide 2

    Workshop Menulis

    Workshop yang dirancang untuk menanamkan dasar-dasar kepenulisan hingga Anda siap menghasilkan warisan karya yang abadi

  • slide 3

    No Excuse! for Education

    Raih hasil terbaik di dunia akademisi dengan menaklukkan segala excuse yang menghambat kesuksesan di dunia pendidikan

  • slide 4

    Buku dan Penerbitan

    Abadikan ide Anda. Ternyata membuat buku lebih mudah dari mengarang satu buah cerpen. Terbukti di sini.

  • slide 5

    Workshop Menulis Anak dan Remaja

    Kemampuan menulis akan sangat bermanfaat untuk masa depan anak-anak. Yang penting ditanamkan adalah kecintaan pada menulis dan dasar penulisan yang benar

  • slide 7

    Workshop dan Seminar Jurnalistik

    Jurnalisme bukan sekedar berita, informasi atau bacaan, tapi cara kita menjadi bagian perubahan dunia

  • slide nav 1

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya
  • slide nav 2

    Workshop Menulis

    Metode terkini, update, mudah diaplikasikan dan karya layak akan diterbitkan
  • slide nav 3

    No Excuse! for Education

    Pendidikan dengan semangat No Excuse! akan menjamin masa depan bangsa
  • slide nav 4

    Workshop Buat Buku

    Membangun semangat untuk minimal menghasilkan satu karya buku sebelum mati
  • slide nav 5

    Workshop Menulis Anak

    Menumbuhkan rasa cinta dan kemampuan membaca dan menulis sejak dini
  • slide nav 6

    Workshop Jurnalistik

    Membangun media sebagai salah satu pilar perubahan untuk masa depan lebih baik
  • slide nav 7

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya

Selamat Datang di Komunitas Bisa!

Anda bisa melakukan segala hal jauh lebih hebat dari yang Anda kira!

Delete this element to display blogger navbar

Pahlawan Nasional dari etnis Tionhoa

Posted by Isa Alamsyah at 9:09 AM
Pahlawan Nasional dari etnis Tionhoa
Refleksi IMLEK 2011

Oleh Agung Pribadi (Historivator)

Selama ini stereotype etnis Tionghoa di Indonesia adalah sebagai pedagang atau pengusaha dan tidak ada yang menjadi tentara. Bahkan stereotype yang lebih buruk adalah etnis Indonesia tidak nasionalis dan tidak mencintai Indonesia.
Padahal kalau kita datang ke Taman Makam Pahlawan Kalibata ada makam seorang dari etnis Tionghoa di sana yaitu John Lie atau Laksamana Muda TNI (Purnawirawan) Jahja Daniel Dharma. Pada tanggal 9 November 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, selaku Kepala Negara, menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepadanya.
Pada awal kemerdekaan Indonesia bahkan banyak juga etnis yang disebut asli Indonesia ternyata memihak Belanda dan menentang kemerdekaan Indonesia. Wakil Van Mook sebagai juru runding mewakili pihak Belanda selama tahum 1945-1949 adalah Abdul Kadir dari etnis Jawa. Jadi persoalannya bukan pada ia etnis asli Indonesia ataukah etnis pendatang melainkan seberapa besar ia mencintai Indonesia dan seberapa besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
John Lie berjasa dalam bolak balik menembus blokade Belanda dalam masa-masa awal kemerdekaan Indonesia di saat kas Negara kosong dan membutuhkan devisa.. Ia juga menembus blokade untuk menjual komoditas-komoditas dari Indonesia dan membawa pulang ke Indonesia bahan-bahan yang dibutuhkan Indonesia seperti pangan, senjata, dan obat-obatan. Paling sedikit sebanyak 15 kali John Lie melakukan operasi “penyelundupan”.
Berkali-kali kapal kecilnya yang bernama outlaw dikejar-kejar tentara Belanda tapi selalu lolos. Ia sangat terkenal karena licin bagai belut dan susah ditangkap. Ia pernah sekali ditangkap oleh perwira Inggris tapi di Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum.
Ini sebuah prestasi luar biasa karena persenjataan dan kapal laut Belanda jauh lebih canggih dari kapal laut Republik Indonesia.
Pada tahun 1950 ketika ia berada di Bangkok, ia dipanggil pulang oleh KSAL Subiyaktountuk ikut memberantas Republik Maluku Selatan (RMS) dan berhasil. RMS yang mau memisahkan diri dari Indonesia berhasil dikalahkan oleh Tentara Nasional Indonesia.

Tokoh-tokoh Tiongoa yang nasionalis pada masa Orde Baru sengaja ditutup-tutupi dan tidak diberitahukan kepada khalayak ramai. Ekspresi kebudayaan etnis Tionghoa dilarang. Imlek dilarang. Nama-nama Tinghoa dilarang.
Pada masa awal Orde Baru banyak etnis Tionghoa yang dituduh PKI. Bahkan di beberapa penjara ada etnis Tionghoa yang tidak beragama mengaku-ngaku beragama Hindu supaya tidak dicap PKI. (Untuk lebih lanjut baca Agung Pribadi, “Legalisasi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam GBHN 1978” Skripsi Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1997).
Jadi kalau kita ingin menjadi bangsa yang besar. Kebenaran sejarah janganlah ditutup-tutupi. Kedewasaan bangsa kita akan terlihat dari keterbukaan sejarah. Juga jangan terjadi pemitosan terhadap sejarah.

********

6 comments :

  1. Anonymous said... :

    Memang susah kalo jd minoritas.

  1. Dani Kaizen said... :

    Maaf pak, kayaknya ada yg kurang dg tulisan diatas, pada baris ketiga yaitu => Bahkan stereotype yang lebih buruk adalah "etnis Indonesia" tidak nasionalis dan tidak mencintai Indonesia.

    Mungkin seharusnya kata2 "etnis Indonesia", diganti dengan kata2 "etnis Tionghoa di Indonesia".

    sekali lagi saya mohon maaf , kalau saya yg salah...
    Trims...

  1. Anonymous said... :

    Teman-teman saya cukup banyak yang dari etnis keturunan. Kami terkadang berbincang-bincang dengan bahasa mandarin. Walaupun begitu mereka sangat mencintai Indonesia, sama seperti kebanyakan etnis mayoritas yang lain. Wallahualam...

  1. tiknoz said... :

    Dari sekian banyak temen saya dari etnis tionghoa hampir tidak ada yg membahas kelas sosial, kasta dan etnis. Mereka sangat faham bener tata krama dan faham budaya jawa, bahkan mereka sering lebih peduli dengan budaya lokal. Kadang sempat timbul dalam pikiran saya, seandainya hak dan kewajiban mereka dimasa Orba sama dengan kita...bayangkan kita akan berubah menjadi Naga Asia tidak menggelepar dalam keterpurukan seperti skrg...ular biludak asia

  1. dani Kaizen: said... :

    Anda betul ada salah ketik, harusnya memang etnis Tionghoa di Indonesia

  1. Agung Pribadi said... :

    Anda betul ada salah ketik, harusnya memang etnis Tionghoa di Indonesia

Post a Comment

 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More