• slide 1

    No Excuse! for Professional and Worker

    Workshop yang dirancang untuk melepas hambatan excuse, sehingga produktivas kerja dan penghasilan akan berlipat ganda

  • slide 2

    Workshop Menulis

    Workshop yang dirancang untuk menanamkan dasar-dasar kepenulisan hingga Anda siap menghasilkan warisan karya yang abadi

  • slide 3

    No Excuse! for Education

    Raih hasil terbaik di dunia akademisi dengan menaklukkan segala excuse yang menghambat kesuksesan di dunia pendidikan

  • slide 4

    Buku dan Penerbitan

    Abadikan ide Anda. Ternyata membuat buku lebih mudah dari mengarang satu buah cerpen. Terbukti di sini.

  • slide 5

    Workshop Menulis Anak dan Remaja

    Kemampuan menulis akan sangat bermanfaat untuk masa depan anak-anak. Yang penting ditanamkan adalah kecintaan pada menulis dan dasar penulisan yang benar

  • slide 7

    Workshop dan Seminar Jurnalistik

    Jurnalisme bukan sekedar berita, informasi atau bacaan, tapi cara kita menjadi bagian perubahan dunia

  • slide nav 1

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya
  • slide nav 2

    Workshop Menulis

    Metode terkini, update, mudah diaplikasikan dan karya layak akan diterbitkan
  • slide nav 3

    No Excuse! for Education

    Pendidikan dengan semangat No Excuse! akan menjamin masa depan bangsa
  • slide nav 4

    Workshop Buat Buku

    Membangun semangat untuk minimal menghasilkan satu karya buku sebelum mati
  • slide nav 5

    Workshop Menulis Anak

    Menumbuhkan rasa cinta dan kemampuan membaca dan menulis sejak dini
  • slide nav 6

    Workshop Jurnalistik

    Membangun media sebagai salah satu pilar perubahan untuk masa depan lebih baik
  • slide nav 7

    Workshop No Excuse!

    Membangkitkan semangat pekerja dan profesional untuk meningkatkan pencapaiannya

Selamat Datang di Komunitas Bisa!

Anda bisa melakukan segala hal jauh lebih hebat dari yang Anda kira!

Delete this element to display blogger navbar

Mengkaji ulang kata "Terima kasih"

Posted by Isa Alamsyah at 12:05 PM
Mengkaji ulang kata "Terima kasih"
Isa Alamsyah

"Terima kasih" adalah ekspresi yang kita ucapkan ketika ada orang yang menolong ,
membantu atau memberikan sesuatu yang kita miliki.
Kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya banyak kajian yang kita bisa bahas dari ungkapan ini.

Di Jepang, ketika kita mendapat pertolongan atau hadiah dari orang lain,
mereka mengucapkan "Arigato" yang diterjemahkan "Terima kasih"
Secara pemakaian, terjemahan itu benar, tapi sebenarnya maknanya jauh berbeda.
"Arigato" makna harfiahnya kurang lebih adalah "Susah benar".
Artinya buat orang Jepang, ketika ada yang menolong maka mereka berpikir bahwa mereka akan bersusah payah untuk membalas kebaikan tersebut.
Jadi buat orang Jepang, ketika di tolong, mereka sudah berpikir bagaimana suatu saat membalas kebaikan ini.

Bagaimana dengan terima kasih?
Jelas kita bisa lihat dua kata "Terima" dan "kasih"
Artinya buat orang Indonesia kalau ada orang yang memberi "kasih" atau menolong karena "kasihan" ya terima saja.
Intinya kita dengan tangan terbuka kita menerima belas kasih orang lain.
Di frase "Terima Kasih" tidak ada nuansa akan membalas budi, membayar pertolongan, atau berdoa. Hanya menerima saja.
Mungkin ini akhirnya berkembang menjadi mental pasif dan nerima lainnya, misalnya:
Mental gratisan: asal ada yang gratis disambar, sekalipun tidak tahu akan bermanfaat atau tidak. Kadang akhirnya dibuang, padahal ada yang lain yang butuh jadi tidak kebagian.
(Di Jepang anak-anak sudah dididik, sekalipun gratisan mereka hanya boleh ambil satu atau secukupnya, bukan sepuasnya).

Dalam bahasa Inggris, mereka mengucapkan "Thanks"
Ini memang ekspresi khusus yang diucapkan untuk menghargai bantuan atau pemberian orang lain. Saya belum menemukan makna khusus kata ini.
Tapi itu tetap bagus, karena bahasa Inggris dan kebanyakan bahasa lain punya ekspresi untuk menghargai bantuan atau pemberian orang lain.
Karena konon ada bahasa yang bahkan tidak punya ekspresi untuk berterima kasih.

Ada yang bilang bahasa asli Timor Timur tidak punya kata seperti "terima kasih".
Mereka mengatakan Obrigado untuk berterima kasih yang sebenarnya merupakan bahasa Portugal.
Beberapa orang yang sinis, memanfaatkan kondisi ini dengan mengatakan orang Timor Timur tidak tahu berterima kasih karena memang tidak ada budaya ini dalam bahasa aslinya.
Saya sendiri percaya ada bahasa asli daerah Timor Timur untuk ucapan terima kasih, hanya saja mungkin karena ratusan tahun (400-an tahun) terjajah Portugal, secara berangsur kata asli untuk berterima kasih tersebut tidak banyak dipakai atau tergantikan akibat terdominasi kata obrigado.
Semoga teman-teman saya ketika meliput di Timor Timur bisa membantu data tambahannya.

Bahasa Arab punya istilah sukron untuk berterima kasih.
Mungkin berakar sama dengan syukur (terima kasih pada Tuhan).
Agak mirip dengan Indonesia Terima Kasih tapi ada nuansa pemberian tersebut merupakan perpanjangan tangan dari Tuhan.
Tapi setelah Islam datang, Muslim dianjurkan untuk mengganti Syukron dengan kalimat
"Jazakumullah" yang artinya "Semoga Allah (Tuhan) Membalas Kebaikanmu".
Kata Jazakumullah merupakan kalimat yang powerful dan kaya makna.
Makna pertama, ketika orang memberi maka kita mendoakan orang tersebut semoga Allah (Tuhan) yang akan membalasnya.
Ini juga mengandung konsep ikhlas, artinya ketika kita membantu orang lain, maka kita hanya berharap balasan dari Yang Di Atas dan tidak membalas dari yang kita tolong.
Karena itu di Islam kita tidak boleh menuntut balas budi orang lain, karena ketika kita menolong maka kita menolong karena Allah dan Allah yang membalas.

Nah sekarang Anda boleh merenungkan kembali apa yang dipilih untuk ucapkan ketika orang menolong Anda.
Kita boleh menambah kalimat "terima kasih" nya dengan tambahan yang memperkuat pendalaman kita terhadap bantuan atau pemberian orang lain, misalnya:
"Terima kasih, saya sangat menghargai kebaikan Anda.
"Terima kasih, semoga saya bisa membalas kebaikan Anda"
"Terima kasih, saya tidak akan lupa kebaikan Anda"
"Terima kasih, semoga Tuhan membalas kebaikan Anda:

Artikel ini hanya untuk mengingat kan kita agar tidak dengan mudah menerima kebaikan orang, tanpa berusaha menyelami makna lebih dari itu.

Semoga bermanfaat.



6 comments :

  1. Anonymous said... :

    terimakasih atas kebaikn pak isa yang selalu mengirimi saya artikel bermutu.semoga Tuhan membalas kebaikan pak isa.hehe.
    tentang kata terimakasih itu,betul apa yang dikatakan pak isa,kadang ada sebagian dari kita,yang menanti ucapan terimakasih dr seseorang ketika kita berbuat kebaikan pada orang tersebut..klo orang itu tak jua berterimakasih pada qta..kadang qta mencap mereka tak tau terimakasih..kadang jua ada orang yang keenakan dengan kebaikan orang lain jadi akhirnya berjualan terimakasih tanpa pernah kefikiran mau membeli.hehe maksud sy..selalu menganggap enteng n remeh kebaikan orang lain..sehingga lupa utang..padahal utang yang paling sulit dibayar adalah utang budi..itu saja komen ngawur dr sy mah..

  1. Anonymous said... :

    Dalam keseharian, kata "kasih" dalam ungkapan terima kasih tidak terkait dengan kasihan, atau seperti kata "kasih" dalam kasih sayang. Di daerah, kasih itu bisa bermakna memberi, jadi ungkapan "terima kasih" bisa berarti menerima dan kemudian membalasnya dengan mengasih/memberi

  1. Anonymous said... :

    izin share boz..

  1. Anonymous said... :

    Trim Sobat Isa
    Isi artikelnya yang cukup mencerahkan.
    Setahu saya bahwa arti harfiah dari arigatou itu bukan susah benar.
    Mungkin lebih tepat 'susah (tidak gampang) ada/terjadinya'.
    Karena 'hal' itu tidak gampang ada atau terjadinya maka harus berterima kasih (bersyukur).

  1. Anonymous said... :

    Arti thank dalam bahasa inggris adalah berkat. Misalnya Thank to you = berkat anda, karena anda.

  1. Dodi aka BILAL said... :

    Terima kasih atau terimakasih?. Ini agak sulit('_')?. Kalau Frasa terimakasih , mgk sedikit 'strong' .
    Penggabungan itu menimbulkan arti baru(?) yang kurang lebih '' kuterima tanda kasih mu'' (I accept your ''Rohmat'').
    Sedang perkembangan justru menjadikannya kata majemuk Terima-kasih, dan alih alih membaguskan makna malah sebaliknya menjadi (It's ok. I accept that).
    Anyway, in my opinion Perasaan/anggapan kita saat menerima bantuan itu, yg lebih menentukan : apakah menghargai sbg hal ''ISTIMEWA'' yg kita terima atau menganggap itu sebagai ''Penerimaan wajar yang seharusnya dia berikan''.
    Celakanya, kebanyakan dari kita terjebak pada anggapan kedua. Apalagi bila ditujukan pada bawahan.

Post a Comment

 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More