Tips Leadership: Libatkan Dalam Proses

Tips Leadership: Libatkan Dalam Proses
Isa Alamsyah

Salah satu kunci kepemimpinan adalah kaderisasi.
Kunci lain adalah keterikatan emosional atau membangun rasa memiliki.
Kunci berikutnya adalah penghargaan.

Nah bagaimana agar ketiga kunci tersebut bersatu dalam leadership Anda.
Jawabannya adalah: libatkan dalam proses.
Jika Anda melibatkan staf, anak buah, murid, anak, dalam proses sebuah keputusan atau produk maka mereka akan mempunyai rasa memiliki, merasa dihargai, dan tanpa sadar sedang terdidik untuk kaderisasi.

Sebaliknya kalau kita hanya memberi perintah, mendikte staf, anak buah, murid, anak didik atau anak, maka yang terjadi adalah menjadikan mesin manusia.

Ada contoh sederhana kenapa dalam banyak hal orang lebih suka dilibatkan ketimbang cuma menerima perintah atau hasil.

Ambil dua mangkok bubur ayam.
Satu biarkan tertata sebagaimana penyajian penjual bubur ayam.
Satu lagi aduk merata sebagaimana kebanyakan orang mau makan bubur ayam.
Lalu sediakan pada dua teman Anda.
Teman yang menerima bubur ayam yang tersaji biasa akan dengan senang hati menerima,
dan kemudian mengaduknya dan memakannya.
Sedangkan teman yang melihat bubur ayam dalam keadaan sudah teraduk mungkin bahkan tidak mau mencicipinya.
Ia akan geli melihat sendok yang sudah dilumuri bubur atau kecep yang berantakan di sekitar mangkok. Secara psikologis ia menerima bubur makan bekas orang.
Padahal kedua bubur tersebut sama-sama belum ada yang makan.
Kenapa yang kedua jijik?
Karena ia tidak terlibat prosesnya.
Akan lain cerita kalau kita membantunya mengadukkan bubur di depan matanya.
Lain cerita lagi kalau kita sendiri yang mengaduknya.
Jadi kadang dua hal sama menjadi berbeda ditanggapinya hanya karena yang satu terlibat prosesnya sedang yang lain tidak.

Kadang masalah demo buruh, atau protes terjadi hanya karena satu pihak tidak dilibatkan dalam proses keputusan.
Memang tidak seluruh keputusan harus melibatkan semua, tetapi kadang membuat orang merasa itu adalah pilihannya, akan berdampak lebih baik.

No Excuse! Karena Anda bisa!


Post a Comment

Previous Post Next Post