Kok kamu tahu?

Kok Kamu Tahu?
Isa Alamsyah




Seorang siswa senior ngobrol dengan siswa baru di kantin sekolah.
Ketika asyik ngobrol tiba-tiba lewat seorang guru kimia yang di kenal killer.
"Itu guru kimia, killer banget deh!" kata sang senior.
"Oh, memang!" kata si murid baru.
"Dia ngajarnya gak enak, tapi kalau kasih soal susah. Kesannya muridnya yang bodoh, padahal dia yang gak becus ngajar!" lanjut si senior.
"Oh, betul!" cetus si murid baru merespon.
"Kalau ada guru terburuk abad ini, pasti dia masuk sebagai kandidat yang kuat." kata si senior tersebut menambahkan.
"Oh, bisa jadi!" jawab si anak baru.
Melihat cara si anak baru merespon, si senior merasa ada yang aneh.
"Kamu anak baru, kamu kok tahu?
Kok jawabnya memang, betul, bisa jadi, kayak udah lama aja sekolah di sini.
Emang kamu kenal ama si killer itu?" tanya si senior penasaran.
"Ya, lah. Itu kan ibu saya. Makanya aku pindah kemari!" jawab si anak baru santai.
Wak waw.... (bacanya seperti bunyi musik film kartun kalau suasana menegangkan...)
Mendengar itu langsung si senior membayar makanan si anak baru, dan berjanji akan mentraktirnya terus di kantin seolah, asalkan si anak baru berjanji tidak melaporkan apa yang dikatakannya tentang ibunya.

Humor dan hikmah
Salah satu kunci komunikasi adalah tahu apa yang di katakan, bisa membedakan mana informasi yang bisa disampaikan, dan sadar dengan siapa bicara, serta melihat tempat berbicara.
Jika kita berkomunikasi sembarangan, tanpa ilmu, maka bisa jadi kita jadi korbannya.

Pada kasus ini, si senior berbicara lepas tanpa kontrol pada orang yang tidak dikenal baik,
dan dia jadi korbannya.
Jadi perhatikan waktu, tempat, lawan bicara, tema, dll, ketika berkomunikasi.

Contoh sederhana.
Anda naik taksi, lalu menelepon ke rumah.
"Aku pulang di rumah ada orang gak? Ooh kuncinya di mana? Oh dibawah karpet. OK."
Tanpa sadar kita membuka rahasia tempat biasa menyembunyikan kunci di depan supir taksi yang tidak kita kenal.
Kalau kebetulan supirnya jahat, bisa jadi informasi tersebut dipakai untuk kejahatan.

Saya pernah mendengar kisah seorang aktivis yang sangat vokal mengkritisi pemerintah di masa orde baru.
Kalau sedang ngobrol politik, kritiknya sangat pedas, dan idenya sangat berani.
Dia bicara di mana saja, dan salah satu tempat favoritnya berdiskusi adalah di mobil.
Suatu hari dia diciduk, dan yang melaporkan ternyata adalah supirnya.

Semoga saja catatan ini memberi masukan pada kita untuk lebih cermat dalam berkomunikasi.

Tetap semangat! No Excuse!

========

Dapatkan beragam humor dengan penuh hikmah yang memotivasi di buku Humortivasi.
Saat ini buku Humortivasi tidak lagi dijual di toko buku dan hanya dijual online di
www.facebook.com/groups/tokoasmanadia
atau bisa lewat WA (hub salah satu saja)
Richie +62 838-7468-6083,
Wiro +62 852-1868-3858, Kamal +62 858-9115-8876

1 Comments

  1. mjaga lidah, mjadi bijak dlm berbicara teorinya mudah. Untk pelaksanaannya bth niat n ilmu ...

    ReplyDelete

Post a Comment

Previous Post Next Post