Buku bisa menyelamatkan kehidupan

Buku bisa menyelamatkan kehidupan

Isa Alamsyah

"Mba Asma, saya sudah hampir bunuh diri. Tetapi buku mba menyelamatkan saya," kata seorang remaja yang sudah sempat meneguk Baygon akibat putus Cinta. Buku "La Tahzan for Jomblo" membangkitkan semangat hidupnya.

"Mba Asma, saya sudah begitu dekat dengan perceraian, tapi akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menata kembali rumah tangga kami setelah membaca buku Mba," ungkap seorang istri setelah membaca buku "Catatan Hati Seorang Istri."

"Mba Asma, saya sudah memutuskan bunuh diri. Saya sudah ngebut naik motor tidak peduli keselamatan saya. Entah kenapa saya akhirnya berhenti di mall dan mampir ke Gramedia. Lalu tanpa sengaja membaca buku 'Catatan Hati di Setiap Sujudku' dan semangat hidup saya bagkit kembali." tulis seorang pembaca di Surabaya.

Ungkapan di atas seringkali diungkapkan para pembaca buku Asma Nadia dalam berbagai kesempatan.

Ada yang bercerita bagaimana karya Asma Nadia mengubah hidupnya lewat email, ada yang menyampaikannya secara langsung dalam pertemuan, ada juga yang menyempaikannya lewat surat, dll.

Ungkapan cinta para pembaca, bisa jadi merupakan kepuasan tertinggi bagi seorang penulis.

Itu pula yang dirasakan Asma Nadia.

Bukankah itu juga merupakan kebahagiaan buat Anda jika bisa membuat orang lebih bahagia, membantu orang keluar dari kesulitan, menjadi sumber inspirasi?

Ada jalan yang mudah untuk melakukannya.

Menulislah. Buatkah karya tulis, buatlah buku.

Membuat buku jauh lebih mudah daripada Anda harus masuk politik untuk mengubah dunia, jauh lebih mudah dari pada Anda harus kaya raya dulu untuk menjadi donatur, jauh lebih mudah dari pada selalu aktif dalam berbagai kegiatan sosial yang terkadang harus meninggalkan tugas rumah tangga.

Jangan khawatir jika Anda sudah terlalu tua untuk menulis buku, atau merasa terlalu muda.Asma Nadia saja baru menulis buku di usia 27 tahun.

Jauh lebih tua daripada penulis KKPK yang sudah menulis di usia 8 - 9 tahun.

Saat ini Asma Nadia berusia 38 tahun dan sudah menulis 41 buku, puluhan antalogi dan mengsupervisi ratusan buku.

Beberapa karyanya sudah difilmkan di layar lebar, FTV, sinetron dan fragmen.

Jika bisa menulis satu kata, maka Anda bisa menulis satu kalimat.

Jika bisa menulis satu kalimat, Anda bisa menulis satu halaman.

Jika bisa menulis satu halaman, maka Anda bisa menulis satu buku.

Artinya, jka Anda belum mempunyai karya buku, bukan karena tidak bisa.

Tapi karena Anda tidak meyakini betapa buku bisa mengubah hidup Anda dan orang lain.

Percayalah hal itu, Anda pasti bisa punya buku.

Satu buku sebelum mati!

Membangun negara dengan prinsip "Jangan malu, jangan gengsi"

Membangun negara dengan prinsip "Jangan malu, jangan gengsi"


Membangun negara dengan prinsip "Jangan malu, jangan gengsi"
Isa Alamsyah

Tidak seperti Eropa umumnya, Rusia pada tahun 1689 merupakan negara yang terbelakang dari semua segi. Jumlah kota sedikit, perbudakan meraja lela, pendetanya bodoh, tidak ada literatur, matematika dan ilmu pengetahuan diabaikan, dan tidak tersentuh renaisans maupun reformasi.
Peter Yang Agung (1672-1725) adalah Tsar Rusia terkemuka yang berhasil mengubah kekaisaran Rusia menjadi negeri yang kuat.

Apa yang membuat Peter Yang Agung sukses membangun kekaisaran Rusia?
Karena ia mengabaikan rasa malu dan gengsi.

Tahun 1697-1698 Peter melakukan perjalanan pembelajaran keliling Eropa.
Ia meninggalkan kemewahan kerajaan dengan membawa 250 orang dan melakukan perjalanan selama 2 tahun.
Dengan menggunakan nama samaran Pyotr Mikhaylov ia bekerja sebagai tukang kayu di Belanda, bekerja sebagai buruh di galangan angkatan laut Inggris, belajar persenjataan di Prusia (Jerman), mengunjungi pabrik, musium, stadiun, melihat sidang parlemen di Inggris, dan belajar segala hal di Eropa.
Pada tahun 1698, ia kembali ke Rusia dan kemudian diangkat menjadi kaisar Rusia.
Ia menerapkan apa saja yang dipelajari selama menjadi kelas bawah di Eropa.
Dengan bekal itu, ia bisa membangun kekaisaran Rusia menjadi negara yang kuat dan dihormati.

Kisah ini diambil dari buku "Jangan Malu Jangan Gengsi"
Motto buku ini adalah:
Jika saja kita bisa mengabaikan malu dan gengsi, kita sudah melangkah maju menuju sukses.


Buku ini dijual di toko buku Gramedia dan Gunung Agung dalam 1 paket dengan judul paket "Dendam Positif" karya Isa Alamsyah dan Asma Nadia.

Dalam satu paket buku "Dendam Positif" ada 5 buku, yaitu (silakan diklik untuk tahu detail bukunya):

1. Jangan takut gagal

2. Dendam Positif

3. Saya Bisa Jadi Apa

4. Mulai Dari Bawah

5. Jangan Malu, Jangan Gengsi




Sekolah tidak identik dengan pendidikan

Memahami perbedaan antara Learning dan Studying

Isa Alamsyah

Seringkali kita mengindentikkan belajar dengan sekolah. Karenanya setelah sekolah
selesai maka selesai jugalah proses belajar.
Padahal belajar adalah proses menyerap ilmu dari mana saja.
Dalam bahasa Inggris kata belajar bisa diungkapkan dengan study atau learn. Apa bedanya?
Silahkan simak kutipan dari buku No Excuse hlm 256 di bawah ini.


"You learn something every day if you pay attention."
Kamu belajar sesuatu setiap hari jika melihat lebih jeli.
Ray LeBlond, Penulis

“Seeing much, suffering much, and studying much are the three pillars of learning.”
Banyak melihat, banyak menderita dan banyak belajar adalah tiga pilar utama pembelajaran.
Benjamin Disraeli, Mantan PM Inggris dan Novelis

"When you stop learning, stop listening, stop looking and asking questions, always new questions,

then it is time to die."
Ketika kamu berhenti belajar, berhenti mendengar, berhenti melihat dan
berhenti bertanya, itu saatnya untuk mati.
Lillian Smith, Penulis Amerika

Dalam bahasa Inggris ada dua kata yang bisa dipakai untuk kata belajar yaitu "learn" dan "study".
Learn adalah bentuk belajar dari pengalaman kehidupan bukan sekedar dari buku atau text book.
Learner bisa diterjemahkan sebagai pembelajar, atau orang yang bisa mengambil hikmah atau intisari suatu keadaan, kejadian atau peristiwa.
Pembelajar adalah orang yang bisa melihat hal-hal yang tertulis dan yang tidak tertulis (tersirat).
Sedangkan study adalah kegiatan belajar dari buku atau dari guru di kelas atau di sekolah. Student bisa
diterjemahkan sebagai pelajar, dan biasanya hanya melihat yang tertulis atau tersurat.
Orang sukses adalah orang yang selalu menempatkan dirinya sebagai pembelajar, mereka tidak pernah berhenti belajar dari kehidupan. Mereka mungkin berhenti sebagai pelajar, tapi mereka tetap
menjadikan dirinya sebagai pembelajar.


Karena itu di Buku No Excuse! dalam bahasan excuse "Saya bukan sarjana!" kita bisa lihat betapa banyak orang sukses yang pendidikan akademisnya rendah tapi mereka belajar dengan baik dari kehidupan sehingga mencapai puncak kesuksesan.


Apapun latar belakang pendidikan kita, kita bisa sukses, No Excuse!

Jangan Dengar Orang Lain

Jangan Dengar Orang Lain













Judul:
Jangan Dengar orang Lain

Penulis:
Isa Alamsyah & Asma Nadia

Jenis:
Motivasi Ringan (dosis tinggi)


Motto:
Orang sukses tahu kapan harus mendengar orang lain, dan kapan harus mengabaikan orang lain.

Rekomendasi:
Jika Anda ingin memberi hadiah ulang tahun atau hadiah apa saja, nampaknya buku ini adalah pilihan yang cocok.

Buku ini ringan tapi powerful.
Mungkin hanya butuh waktu 15 menit untuk membacanya.
Bahasanya ringan mudah dicerna. Anak SMP, SMA, ibu rumah tangga, bahkan direkomendasikan untuk membacanya.
Sekalipun ringan buku ini juga bisa dibaca eksekutif dan pemimpin, karena selain ringan juga powerful.
Orang sibuk cukup meluangkan 15 menit sehari untuk mencharge semangatnya.

Sekilas tentang buku ini:

Jangan Dengar Orang Lain

Kalau saja orang-orang dalam buku ini mendengar omongan orang lain,
mungkin dunia tidak seperti sekarang.
Musik tidak sedinamis sekarang, transportasi tidak secepat sekarang,
ilmu pengetahuan tidak sehebat sekarang,
hidup tidak senyaman sekarang.
Yang kita lihat saat ini terjadi, salah satunya,
karena orang besar sebelum kita tidak mendengar orang lain.
Tidak percaya?
Silakan baca bukunya.

Pemesanan:

Buku ini belum tersedia di toko buku jadi harus memesan langsung (online)

Jika ingin memesan langsung silahkan hubungi Leon : 087885273530 (XL), Roonie: 081282210742

Dedi: 085711946854 (IM3) - Hub salah satu nomor saja
Pengaruh Das Capital dan Origin of Species
Isa Alamsyah & Rendro Dani (http://www.facebook.com/rendro.dhani)

Ada tanggapan atas artikel The Prince yang nampaknya perlu diketahui juga oleh member komunitas bisa! yang semakin memperkuat bagaimana sebuah buku bisa mengubah dunia (walaupun tentu saja bukan buku itu saja faktor penyebabnya).
Tanggapan kebetulan disampaikan oleh Rendro Dhani teman saya ketika sama-sama bekerja sebagai wartawan di TV NHK Jepang.
Silakan simak komentar Rendro Dhani:

Saya nambah dikit ya...
buku karangan Niccolo Machiavelli itu aslinya berjudul Il Principe (Sang Pangeran), yang setelah selesai ditulis kemudian dipersembahkan kepada Raja yang berkuasa saat itu sebagai "persembahan". Inilah uniknya Machiavelli, ketika orang memberi upeti kepada penguasa berupa emas dan barang berharga lainya, Machiavelli mempersembahkan bukunya sebagai upeti.

Boleh jadi Hitler, Musolini dan Stalin, bahkan Mao Tse-Tung pernah membaca buku Machiavelli yang tergolong sangat tipis itu (kurang dari 100 hlm) namun berat & dalam. Tapi banyak literatur yang mengatakan bahwa para pemimpin otoriter dan fasis itu lebih terinspirasi oleh buku The Communist Manifesto karya Karl Marx (Das Capital) yang kemudian disempurnakan oleh Friedrich Engels (setelah Marx wafat). Bahwa satu2nya cara untuk menumbangkan penguasa kapitalis dan menghilangkan kelas di masyarakat adalah hanya melalui revolusi, yang berarti harus dengan kekerasan yang ber-darah2. Sebelum Stalin melakukan pembantaian, Lenin sudah lebih dahulu membunuh jutaan rakyatnya sendiri dengan cara yang sangat kejam dan tidak terperikan. Lenin sangat setuju dengan pemikiran Marx, menjadi diktator dan menerapkan hal itu di negaranya, maka lahirlah Communism Leninism. Di Cina, Mao Tse-Tung juga menerapkan pemikiran Marx, namun ada perbedaan dikit maka lahirlah Maoism Communism.

Di Indonesia, PKI mungkin juga idem, berkali-kali mereka menggunakan cara yang sama, melakukan revolusi untuk merebut kekuasaan (terakhir konon mereka khawatir didahului oleh militer/dewan jenderal, sehingga terjadilah G30S).

Marx sendiri melalui gagasan materialisme-nya sesunguhnya baru yakin benar dengan pemikirannya sendiri setelah lahir karya Charles Darwin yaitu On the Origin of Species, yang antara lain pemikiran kontroversialnya adalah manusia itu nenek moyangnya adalah sebangsa monyet dan juga mengatakan bahwa mahluk hidup itu tercipta dengan sendirinya, jadi dia menafikan existensi/campur tangan Tuhan. Itu yang diamini oleh Marx dengan gagasannya tentang materialism.

Pemikiran Machiavelli intinya "menghalalkan" segala cara untuk merebut, memelihara dan mempertahankan kekuasaan. Para tokoh besar dunia saya yakin memang suka membaca, dan bacaannya buanya....aaak, yang semua itu jelas memberi pengaruh dalam cara dia memimpin.

Lalu pemimpin kita skrg gimana? Dia jelas suka baca buku juga, tapi gaya kepemimpinannya mungkin lebih condong ke pemikir melankolis dari Italia, Antonio Gramsci (yg aliran disebut neo-Marxist), bahwa untuk melakukan hegemoni (dominasi) tidak perlu menggunakan kekerasan apalagi dengan kekuatan militer, tapi dengan cara halus, yaitu merebut hati dan pikiran publik (wallahu alam bisawab).

Ket tambahan:
Setelah membaca komentar ini saya ngabrol dengan Agung Pribadi (Sarjana Sejarah lulusan Universitas Indonesia), ternyata Karl Marx dan Charles Darwin juga baca The Prince. Wah...
"The Prince" Buku yang tak sempat diterbitkan semasa hidup
oleh Isa Alamsyah


Buat yang belum tahu buku ini, membaca judulnya "The Prince" atau "Sang Pangeran", mungkin membuat Anda membayangkan sebuah kisah romantis antara sang pengeran dan calon permaisuri.Tapi kenyataannya buku ini sama sekali bukan buku tentang cinta sang pangeran.

Secara singkat bisa dikatakan bahwa buku ini mengajarkan pada para pemimpin untuk menggunakan KEKERASAN atau PERANG untuk mempertahankan kekuasaannya.Untuk berkuasa penuh, jangan terlalu peduli berapa darah yang harus dikorbankan, jika itu harganya untuk mempertahankan kekuasaan. Kurang lebih begitulah.

Buku ini dikarang oleh Niccolò di Bernardo dei Machiavelli (3 May 1469 – 21 June 1527) atau yang lebih sering disingkat Machiavelli

Buku yang tebalnya tidak lebih dari 100 halaman ini diterbitkan tahun 1532, padahal ditulis sejak 1513. Artinya butuh 19 tahun untuk membuat penerbit memutuskan bahwa tulisan ini layak terbit. Sayangnya tahun 1527 sang penulis sudah wafat, artinya ia tidak pernah tahu bahwa bukunya akhirnya diterbitkan.

Lalu bagaimana buku yang aslinya berjudul Il Principe ini tersebar?

Semasa hidupnya karya Machiaveli ini disebar diantara teman, yang beberapa di antaranya adalah orang berpengaruh, karena Machiaveli sendiri adalah seorang diplomat. Machiaveli sendiri menyerahkan buku ini sebagai upeti untuk raja.

Apa yang Anda pelajari?

Jangan pedulikan apa yang Anda tulis akan diterbitkan atau tidak.Tulis saja dulu apa yang Anda pikir perlu disampaikan. Itu saja dulu. Bahkan Machiaveli harus menunggu 14 tahun sampai meninggal, bukunya tidak diterbitkan. Lima tahun setelah wafat baru bukunya terbit.

Apakah ini saja hikmahnya? Well artikel ini belum selesai.

Ada pelajaran yang lebih penting lagi dari buku ini.

Kira kira dua setengah abad kemudian, buku ini dibaca oleh Napoleon Bonaparte (15 Agustus 1769 – 5 Mei 1821). Salah satunya karena terilhami dari buku ini, Napoleon melancarkan serangan ke berbagai negeri yang membuat Perancis menjadi salah satu negara paling ditakuti. Untung saja Napoleon lebih bijak dan selektif dalam penerapannya sehingga ia tidak menjadi pemimpin yang brutal.

Sayangnya empat Abad kemudian, buku ini menjadi pegangan Hitler, Musolini, Mao Tse-Tung dan Stalin. Kita sudah tahu akibatnya.

Selain The Prince, keempat diktator itu juga terilhami oleh buku Karl Mark dan Charles Darwin, dan baik Marx maupun Darwin juga pembaca The prince.

Stalin membunuh jutaan rakyatnya, Hitler mempelopori PD II yang membuat puluhan juta orang meninggal. Musolini berkoalisi dengan Hitler. Mao Tze Tung

Sekarang apa pelajaran lain yang bisa kita ambil?

Sebuah ide yang dibukukan bisa mempunyai pengaruh sampai berabad-abad lamanya?

Hanya saja ide Machiveli buruk sekali, sehingga menghasilkan pemimpin yang merusak.

Orang yang membacanya punya jalan pikiran yang rusak, dan jika ia berkuasa maka kekuasaannya juga merusak seperti Hitler, Musolini dan Stalin.

Bayangkan, jika begitu banyak orang dengan ide buruk dengan pikiran merusak menuliskan idenya dalam buku maka akan semakin banyak kerusakan di muka bumi.

Bagaimana mengantisipasinya?

Jadikan diri Anda sebagai orang baik yang menulis buku.J

adikan diri Anda sebagai orang baik yang menulis di media apa saja.

Semakin banyak buku bagus, semakin karya bagus maka kebaikan akan semakin tersebar.

Jika semangat menulis dimiliki orang yang mempunyai ide merusak, maka dunia akan semakin buruk.

Menulislah dari sekarang. menulislah yang mencerahkan.

No Excuse! Karena Anda pasti bisa!
Jangan Takut Gagal

Jangan Takut Gagal




Judul: Jangan Takut Gagal
(Dijual sebagai bagian dari buku "Dendam Positif"

Penulis: Isa Alamsyah dan Asma Nadia

Jenis: Motivasi Ringan (dosis tinggi)
Paket 5 in 1 dalam 1 paket ada 5 buku motivasi ringan

Pemesanan: Buku ini dijual dalam paket berjudul "Dendam Positif" tersedia di toko buku Gunung Agung (sudah terkirim) dan Gramedia

Jika ingin memesan langsung silahkan hubungi
Leon : 087885273530 (XL),
Roonie: 081282210742
Dedi: 085711946854 (IM3) -
Hub salah satu nomor saja





Paket Penjualan:
Buku ini dijual dalam 1 paket dengan judul paket "Dendam Positif"
Dalam satu paket ada 5 buku, yaitu (silakan diklik untuk tahu detail bukunya):

1. Jangan takut gagal

2. Dendam Positif

3. Saya Bisa Jadi Apa

4. Mulai Dari Bawah

5. Jangan Malu, Jangan Gengsi


Rekomendasi:
Jika Anda ingin memberi hadiah ulang tahun atau hadiah apa saja, nampaknya buku ini adalah pilihan yang cocok.

Buku ini ringan tapi powerful.
Setiap buku mungkin hanya butuh waktu 15 menit untuk membacanya (Kecuali Jangan Takut Gagal yang agak tebal).
Bahasanya ringan mudah dicerna. Anak SMP, SMA, ibu rumah tangga, bahkan direkomendasikan untuk membacanya.
Sekalipun ringan buku ini juga bisa dibaca eksekutif dan pemimpin, karena selain ringan juga powerful.
Orang sibuk cukup meluangkan 15 menit sehari untuk mencharge semangatnya.


Sekilas tentang buku ini:


Buku "Jangan Takut Gagal" merupakan terbaik yang membahas tentang "GAGAL"

Buku penuh inspirasi dan kaya informasi yang bisa membangkitkan semangat Anda.

Setelah berapa kali ditolak, kita boleh menyerah?
Setelah berapa kali gagal, kita boleh berhenti?

Tahukah Anda kegagalan Abraham Lincoln sebelum akhirnya terpilih sebagai presiden AS?
Tahukah Anda berapa kali Col. Sanders ditolak sebelum menemukan restoran yang berminat?
Tahukah Anda berapa banyak proyek Bill Gates yang gagal sekalipun ia orang terkaya di dunia?
Tahukah Anda berapa banyak kegagalan Michael Jordan mengeksekusi shooting?
Tahukah Anda berapa kali Donald Trump menghadapi kebangkrutan dalam bisnisnya?


Anda akan takjub mengetahui jawabannya!
Anda tidak akan menyangka melihat kegagalan mereka, terkadang lebih parah dari yang kita alami.







Buku bisa menyelamatkan kehidupan
Buku bisa menyelamatkan kehidupan

Isa Alamsyah



"Mba Asma, saya sudah hampir bunuh diri. Tetapi buku mba menyelamatkan saya," kata seorang remaja yang sudah sempat meneguk Baygon akibat putus Cinta. Buku "La Tahzan for Jomblo" membangkitkan semangat hidupnya.



"Mba Asma, saya sudah begitu dekat dengan perceraian, tapi akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menata kembali rumah tangga kami setelah membaca buku Mba," ungkap seorang istri setelah membaca buku "Catatan Hati Seorang Istri."



"Mba Asma, saya sudah memutuskan bunuh diri. Saya sudah ngebut naik motor tidak peduli keselamatan saya. Entah kenapa saya akhirnya berhenti di mall dan mampir ke Gramedia. Lalu tanpa sengaja membaca buku 'Catatan Hati di Setiap Sujudku' dan semangat hidup saya bagkit kembali." tulis seorang pembaca di Surabaya.



Ungkapan di atas seringkali diungkapkan para pembaca buku Asma Nadia dalam berbagai kesempatan.

Ada yang bercerita bagaimana karya Asma Nadia mengubah hidupnya lewat email, ada yang menyampaikannya secara langsung dalam pertemuan, ada juga yang menyempaikannya lewat surat, dll.



Ungkapan cinta para pembaca, bisa jadi merupakan kepuasan tertinggi bagi seorang penulis.

Itu pula yang dirasakan Asma Nadia.

Bukankah itu juga merupakan kebahagiaan buat Anda jika bisa membuat orang lebih bahagia, membantu orang keluar dari kesulitan, menjadi sumber inspirasi?



Ada jalan yang mudah untuk melakukannya.

Menulislah. Buatkah karya tulis, buatlah buku.

Membuat buku jauh lebih mudah daripada Anda harus masuk politik untuk mengubah dunia, jauh lebih mudah dari pada Anda harus kaya raya dulu untuk menjadi donatur, jauh lebih mudah dari pada selalu aktif dalam berbagai kegiatan sosial yang terkadang harus meninggalkan tugas rumah tangga.



Jangan khawatir jika Anda sudah terlalu tua untuk menulis buku, atau merasa terlalu muda.Asma Nadia saja baru menulis buku di usia 27 tahun.

Jauh lebih tua daripada penulis KKPK yang sudah menulis di usia 8 - 9 tahun.

Saat ini Asma Nadia berusia 38 tahun dan sudah menulis 41 buku, puluhan antalogi dan mengsupervisi ratusan buku.

Beberapa karyanya sudah difilmkan di layar lebar, FTV, sinetron dan fragmen.



Jika bisa menulis satu kata, maka Anda bisa menulis satu kalimat.

Jika bisa menulis satu kalimat, Anda bisa menulis satu halaman.

Jika bisa menulis satu halaman, maka Anda bisa menulis satu buku.



Artinya, jka Anda belum mempunyai karya buku, bukan karena tidak bisa.

Tapi karena Anda tidak meyakini betapa buku bisa mengubah hidup Anda dan orang lain.

Percayalah hal itu, Anda pasti bisa punya buku.

Satu buku sebelum mati!
Haji 28 kali

Haji 28 kali

Isa Alamsyah

Saya mengenal seorang pembimbing Haji yang sangat bijak.

Usianya baru 50 tahunan tapi sudah pergi haji sebanyak 28 kali.

Tidak salah dengar? Tidak ini benar, bahkan kalau ditambah umrah mungkin sudah 50 sampai 70 kali bolak balik ke tanah suci, karena dalam setahun bisa dua atau tiga kali ke tanah suci jika dihitung dengan umrah.

Bisakah Anda bayangkan betapa banyak pengalaman yang sudah dilaluinya.

Betapa banyak hal bisa kita tanyakan dan kita pelajari darinya.

Saya pun sering memanfaatkan waktu untuk bertanya jika kebetulan bertemu dengannya.

Tapi sayang, jika Anda punya list pertanyaan kini dia tidak bisa menjawabnya.

Kenapa? Beberapa bulan lalu ia telah pergi menghadap-NYa.

Ketika melayat saya merasa sedih, bukan saja karena kehilangan dia,

bukan saja karena Indonesia kehilangan salah satu ulama besar,

tapi lebih dari itu, hampir semua ilmu, pengalaman dan pengetahuannya ikut hilang terkubur.

Kenapa?

Karena ia tidak menulis. Tidak ada pikiran dan ucapannya yang dibukukan.

Menulis membuat kita abadi , membuat kita tetap hidup sekalipun kita telah dikuburkan.

Saya sebenarnya sudah menyiapkan ia untuk menjadi narasumber buku guide praktis haji yang sedang kita susun akan tetapi sayang, Allah sudah memanggilnya.

Saya percaya ada ilmu yang tersisa, ada pelajaran yang disampaikan ke anak dan murid-muridnya, tapi jika tertulis maka tidak ada degradasi ilmu karena semua berasal langsung dari sumbernya.

Bagaimana dengan Anda?

Anda mungkin orang tua yang sukses mengubah anak bandel menjadi alim.

Anda mungkin guru yang sukses membuat murid rusuh menjadi pemimpin.

Anda mungkin pegawai yang sukses berkarir dari bawah.

Mungkin Anda menjadi kaya walaupun dari keluarga miskin dan berjuang keras untuk sukses?

Mungkin Anda adalah pahlawan hidup yang dicari banyak orang

Tapi semua itu hanya menjadi kabar angin, dan akan hilang perlahan jika Anda tidak menulis.

Semua akan terkubur dan mulai pudar sedikit lebih lama dari pudarnya tubuh kita dalam tubuh.

Apakah ingin dikenang?

Apakah Anda ingin hidup dalam keabadian ilmu.

Apakah sejarah Anda hanya ingin tertulis di batu nisan atau lebih dari itu?

Bukankah amal jariyah adalah amal yang tetap mengalir sekalipun kita meninggal.

Dan menulis adalah satu satu ilmu yang terus mengalir.

Tulislah pengalaman Anda, buatlah buku, buatlah diri Anda abadi.

Jangan biarkan orang lain mengalami kesalahan yang sama dengan kita.

Beri petunjuk orang lain agar hidupnya lebih mudah.

Selama kebaikan yang Anda sebar, maka amal akan mengalir.

Buatlah setidaknya satu buku, selama Anda masih hidup!

Satu buku, minimal.

Hidup hanya sekali, satu buku bukan target yang berlebihan.